Indonesia Perkuat Diplomasi Ekonomi dengan Afrika Tengah Lewat TEI 2026

Duta Besar RI untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat. Foto: Metrotvnews.com

Indonesia Perkuat Diplomasi Ekonomi dengan Afrika Tengah Lewat TEI 2026

Muhammad Reyhansyah • 14 October 2026 08:22

Jakarta: Indonesia memanfaatkan partisipasi delegasi Kamerun dan sejumlah negara Afrika Tengah dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 untuk meningkatkan perdagangan dan investasi sekaligus memperkuat diplomasi ekonomi di kawasan tersebut.

Duta Besar RI untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat mengatakan, partisipasi delegasi itu dirancang untuk mempertemukan lebih banyak pelaku usaha dan pemangku kepentingan Indonesia dengan mitra potensial dari Afrika Tengah.

“Tujuan utama kami untuk kehadiran kami di TEI Jakarta ini yang pasti untuk meningkatkan volume perdagangan, volume investasi dalam kerangka penguatan diplomasi ekonomi antara Indonesia dan kawasan Afrika Tengah,” kata Agung dalam keterangan media di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.

Agung menyebut sekitar 150 peserta dari kawasan Afrika Tengah telah mendaftar untuk mengikuti rangkaian kegiatan di Indonesia. Namun, berdasarkan daftar pengecekan terakhir, jumlah delegasi yang diperkirakan hadir sekitar 75 orang.

Indonesia menargetkan potensi kerja sama tahun ini setidaknya menyamai capaian TEI 2025, yakni USD19,5 juta atau sekitar Rp348,46 miliar.

Agung mengatakan tahun lalu sekitar enam nota kesepahaman (MoU) disepakati, terutama di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Saat itu, jumlah delegasi yang hadir sekitar 30 orang, lebih sedikit dibandingkan perkiraan jumlah delegasi tahun ini.

“Minimal targetnya itu seperti tahun lalu, USD19,5 juta,” ujarnya.

Empat Calon MoU Jadi Prioritas

KBRI Yaoundé saat ini menjajaki empat calon MoU yang dinilai berpeluang ditandatangani. Agung memperkirakan peluang penandatanganannya sekitar 80 persen, meski kesepakatan tersebut masih harus melalui pembahasan lebih lanjut.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pertanian, termasuk kebutuhan pupuk. Agung mengatakan Kamerun masih membutuhkan pupuk untuk meningkatkan produksi pertaniannya.

“Mereka juga sering mengatakan kepada saya bahwa Kamerun masih sangat kekurangan pupuk untuk memperkuat dan meningkatkan volume produksi mereka,” ujarnya.

Peluang lain terdapat di sektor transportasi, khususnya pengembangan perkeretaapian. Agung mengatakan Menteri Transportasi Kamerun telah menyampaikan ketertarikan untuk mengembangkan sistem kereta api di negara tersebut.

Menurut Agung, peluang kerja sama tidak terbatas pada penyediaan lokomotif, tetapi juga mencakup sistem perkeretaapian secara lebih luas. KBRI Yaoundé berencana mengoordinasikan penjajakan tersebut dengan Kementerian Perhubungan RI.

Indonesia juga menjajaki peluang di sektor suku cadang kendaraan serta transportasi sungai dan perkapalan. Untuk sektor perkapalan, KBRI berencana menghubungi perusahaan galangan kapal Indonesia guna melihat kemungkinan kerja sama yang sesuai dengan kebutuhan Kamerun.

Agung mengatakan, penjajakan tersebut akan dilanjutkan melalui kegiatan business matching dan Forum Bisnis Indonesia–Kamerun ke-2. Ia berharap pembicaraan tidak berhenti pada agenda penandatanganan MoU.

“Pembicaraan masih akan terus berlanjut sehingga MoU pun dapat dihasilkan lebih banyak lagi dengan nilai kerja sama yang juga meningkat,” kata Agung.

Rangkaian Agenda Delegasi

Kunjungan delegasi dijadwalkan berlangsung pada 12–25 Oktober 2026. Mereka akan mengikuti TEI pada 14–18 Oktober, termasuk Forum Bisnis Indonesia–Kamerun ke-2 pada 16 Oktober.

Rangkaian kegiatan turut mencakup business matching, kunjungan ke pusat inovasi dan UMKM, serta penjajakan kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Indonesia. 

Delegasi juga dijadwalkan menghadiri World Conference on Creative Economy (WCCE) pada 21–24 Oktober.

(Fajar Nugraha)