Hujan Guyur Banyumas, Jumlah Desa Penerima Bantuan Air Bersih Mulai Berkurang

Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti menyalurkan bantuan air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Desa Kalitapen, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat, 9 Oktober 2026. ANTARA/HO-Pemkab Banyumas

Hujan Guyur Banyumas, Jumlah Desa Penerima Bantuan Air Bersih Mulai Berkurang

Silvana Febiari • 6 November 2026 09:36

Banyumas: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyebutkan jumlah desa penerima bantuan air bersih mulai berkurang seiring turunnya hujan. Kekeringan berdampak pada 121 desa di wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas Dwi Irawan Sukma mengatakan sebanyak 84 desa menyatakan kebutuhan air bersihnya tercukupi. Desa-desa tersebut meminta distribusi bantuan dihentikan sementara.

"Dari total 121 desa yang terdampak kekeringan, saat ini yang sudah menyatakan cukup sebanyak 84 desa. Namun, ini masih bisa berkembang karena kondisi cuaca belum menentu," katanya didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Abdul Ladjis, dilansir dari Antara, Jumat, 6 November 2026.


Meskipun hujan mulai turun, pihaknya masih menerima permohonan bantuan air bersih dari sejumlah desa yang belum sepenuhnya pulih dari dampak kekeringan.

Kebutuhan bantuan air bersih saat ini tersebar di sejumlah wilayah, baik bagian utara, selatan maupun timur Kabupaten Banyumas. Kondisi setiap desa juga berbeda-beda, bahkan kebutuhan air di dalam satu wilayah dapat mengalami perubahan.

"Misalnya, yang tadinya membutuhkan dua tangki, sekarang cukup satu tangki. Jadi, ada pengurangan kebutuhan, tetapi belum sepenuhnya pulih," ujarnya.

Ia mengatakan perkembangan kebutuhan bantuan air bersih bersifat fluktuatif karena dalam beberapa hari terakhir cenderung tidak terjadi hujan di sejumlah wilayah Banyumas

Hujan yang turun di wilayah Banyumas umumnya masih berintensitas ringan hingga sedang dan bersifat sporadis. Meski demikian, hujan lebat sempat mengguyur Banyumas dan sekitarnya pada Jumat malam, 30 Oktober 2026 hingga Sabtu pagi, 31 Oktober 2026, sehingga menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah desa.

“Dengan demikian, desa-desa yang sebelumnya menghentikan permohonan bantuan, masih berpeluang kembali mengajukan distribusi apabila kondisi kekeringan terjadi lagi,” ucapnya.

Pihaknya tetap melakukan pemantauan di lapangan untuk mengetahui perkembangan kondisi sumber air dan kebutuhan masyarakat terdampak.


Petugas BPBD Kabupaten Banyumas mendistribusikan bantuan air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Kelurahan Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas, Jawa Tengah, Minggu, 6 Juli 2026. ANTARA/HO-BPBD Banyumas


Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas, Abdul Ladjis, mengatakan kekeringan masih berdampak pada 121 desa/kelurahan di 25 kecamatan berdasarkan data per 5 November 2026. Jumlah warga terdampak mencapai 98.158 jiwa atau sebanyak 27.198 keluarga.

“Bencana kekeringan tersebut juga berdampak terhadap 31 unit fasilitas umum. Dalam penanganannya, kami telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 10.140.000 liter melalui 2.014 ritase pengiriman,” tuturnya.

Penghentian sementara bantuan bukan berarti kekeringan telah berakhir. BPBD tetap menyalurkan air bersih ke desa yang masih membutuhkan.

“Selain penanganan kekeringan, kami juga mencatat sebanyak 67 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total luas area terbakar mencapai 64,818 hektare,” imbuhnya.

Sejumlah wilayah yang tercatat mengalami kebakaran lahan antara lain Kecamatan Kalibagor, Patikraja, Purwojati, Jatilawang, Ajibarang, Cilongok, Purwokerto Selatan, Lumbir, Kebasen, Sokaraja, Wangon, dan Banyumas.

(Silvana Febiari)