UMKM Batik Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi bagi Penyandang Disabilitas

UMKM yang bergerak pada usaha kerajinan batik ikut membuka ruang bagi penyandang disabilitas berkarya. Foto: Dok Pertamina

UMKM Batik Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi bagi Penyandang Disabilitas

Eko Nordiansyah • 3 October 2026 13:05

Jakarta: PT Pertamina (Persero) melalui pembinaan UMKM yang bergerak pada usaha kerajinan batik ikut membuka ruang bagi penyandang disabilitas berkarya dan mengembangkan potensi. Untuk itu, Pertamina mendorong pertumbuhan UMKM batik di berbagai daerah dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2026.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, pemberdayaan UMKM tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas bisnis, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk tumbuh dan mandiri. Bagi Pertamina, batik merupakan contoh pelestarian budaya turut mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kami ingin memastikan semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan mengembangkan usahanya,” ujar Baron dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Saat ini, sebanyak 428 UMKM batik menjadi bagian dari binaan Pertamina, dengan pendampingan yang mencakup penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk hingga perluasan akses pasar. Bagi sebagian pelaku UMKM binaan, batik bahkan menjadi ruang untuk menciptakan kesempatan kerja yang lebih inklusif.


(UMKM yang bergerak pada usaha kerajinan batik ikut membuka ruang bagi penyandang disabilitas berkarya. Foto: Dok Pertamina)

Pelibatan penyandang disabilitas

Di Bantul, Yogyakarta, Roona Batik yang dikelola Muhammad Syauki telah berkembang menjadi usaha fesyen dengan kapasitas produksi sekitar 5.000 lembar per bulan dan omzet mencapai Rp100 juta per bulan. Dari 18 pekerja yang terlibat, sebagian merupakan penyandang disabilitas yang ikut mengambil peran dalam proses produksi.

Cerita serupa hadir di Batik Jinggar, Yogyakarta. UMKM yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih tersebut tidak hanya mengembangkan batik sebagai produk fesyen, tetapi juga menghadirkan inovasi melalui motif dan desain. Dengan omzet sekitar Rp100 juta per bulan, Batik Jinggar melibatkan delapan tenaga kerja, termasuk dua penyandang disabilitas.

Sementara di Riau, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan mengembangkan batik tulis dengan mengangkat kekayaan budaya daerah. Usaha ini mencatat omzet sekitar Rp150 juta per bulan dan melibatkan delapan pekerja, lima diantaranya merupakan penyandang disabilitas.

Upaya membuka ruang berkarya bagi penyandang disabilitas juga dilakukan melalui program Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah. Program ini mengembangkan keterampilan membatik sekaligus mendorong kemandirian ekonomi dan sosial para pesertanya.

Kelompok Sriekandi Patra, kini telah memiliki workshop, peralatan dan modal usaha sendiri. Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa batik dan oleh-oleh khas Boyolali, tetapi juga dikembangkan menjadi paket edukasi membatik dan berkolaborasi dengan desainer.

Menurut Baron, keterlibatan penyandang disabilitas dalam ekosistem UMKM menunjukkan bahwa inklusivitas dapat tumbuh dari aktivitas ekonomi yang dekat dengan masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan komitmen mendukung pemberdayaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengembangan kewirausahaan, serta penguatan industri kreatif.

“Inilah semangat yang terus kami dorong melalui pembinaan UMKM Pertamina. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, Pertamina terus mendorong UMKM agar tidak hanya mampu mempertahankan warisan budaya, tetapi juga naik kelas, memperluas pasar, dan menciptakan manfaat ekonomi yang semakin luas,” ujar dia.

(Eko Nordiansyah)