Ilustrasi, pertumbuhan penduduk di Indonesia melambat. Foto: Anadolu.
BPS: Pertumbuhan Penduduk di Indonesia Melambat
Husen Miftahudin • 5 May 2026 12:27
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) secara khusus merilis berbagai indikator kependudukan hasil pendataan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2025. SUPAS dilaksanakan di antara dua periode sensus penduduk untuk memperoleh berbagai indikator demografi seperti fertilitas, mortalitas, dan mobilitas.
BPS melaporkan, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan SUPAS 2025 mencapai 284,67 juta jiwa. Sebanyak 55,65 persen di antaranya berada di Pulau Jawa.
"Laju pertumbuhan penduduk tercatat sebesar 1,08 persen per tahun, melambat dari kondisi terakhir pada Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020) sebesar 1,10 persen," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Berdasarkan usia, sekitar 68,92 persen penduduk Indonesia merupakan Gen-Z (kelahiran 1997-2012), Milenial (kelahiran 1981-1996), dan Post-Gen Z (kelahiran 2013 ke atas).
Rasio ketergantungan penduduk berdasarkan hasil SUPAS 2025 mencapai 45,05, yang artinya setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung 45 penduduk usia nonproduktif. Angka ini naik dari 44,33 pada pendataan LF SP2020.
| Baca juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% di Triwulan I-2026 |

(Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta. Foto: dok BPS)
Angka kelahiran turun
Selanjutnya, Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate (TFR) pada SUPAS 2025 tercatat sebesar 2,13, atau turun dari 2,18 pada pendataan LF SP2020. Penurunan TFR ini utamanya didorong oleh penurunan angka kelahiran pada perempuan kelompok umur 15-19 tahun dan 20-24 tahun yang cukup signifikan.
Sementara itu, Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) menunjukkan tren menurun dari waktu ke waktu. IMR berdasarkan SUPAS 2025 tercatat sebesar 14,12 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, atau turun dari 16,85 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup pada LF SP2020. IMR pada SUPAS 2025 bahkan hampir setengah dari kondisi SP2010 yang sebesar 26,09 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup.
Selanjutnya, Angka Kematian Ibu Melahirkan atau Maternal Mortality Ratio (MMR) juga menunjukkan tren menurun. MMR berdasarkan SUPAS 2025 turun menjadi 144 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup, atau turun dari 189 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup pada LF SP2020. MMR pada SUPAS 2025 turun lebih dari setengah kondisi pada pendataan SP2010 yang sebesar 346 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup.
BPS turut mencatat angka migrasi masuk maupun keluar internasional hasil SUPAS 2025 mengalami peningkatan dibandingkan hasil LF SP2020. Dari sisi domestik, DKI Jakarta menjadi daerah dengan persentase migrasi keluar antarprovinsi terbesar, baik seumur hidup maupun risen.