Krisis BBM, Antrean Panjang Tampak di Ibu Kota Laos

Ilustrasi Anadolu

Krisis BBM, Antrean Panjang Tampak di Ibu Kota Laos

Fajar Nugraha • 17 March 2026 16:58

Vientiane: Antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Vientiane, Laos pada Senin, 16 Maret 2026, akibat kelangkaan BBM yang semakin parah.

Krisis ini dipicu dampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi global.

Lebih dari 40 persen dari 2.538 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Laos dilaporkan tutup pekan lalu, sementara banyak stasiun di ibu kota kehabisan pasokan. Sejumlah SPBU bahkan memasang tanda kehabisan bahan bakar dan menutup layanan.

Laos sangat bergantung pada pasokan BBM dari Thailand yang sempat menghentikan ekspor untuk menjaga cadangan dalam negeri. Meski pasokan darurat telah dikirim, ketersediaan BBM cepat habis karena tingginya permintaan.

Warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar meski memiliki uang untuk membeli. Seorang guru bernama Vetthavixay Phaengvixay (29) mengatakan, “kadang kami punya uang, tetapi tidak ada bensin yang bisa dibeli”, menggambarkan kondisi krisis yang dialami masyarakat.

Dilansir dari media Channel News Asia, Selasa 17 Maret 2026, antrean kendaraan mengular di SPBU yang masih buka dengan waktu tunggu hingga dua jam untuk mengisi bahan bakar. Pengemudi ojek mengaku terpaksa berhenti bekerja sementara jika tidak menemukan BBM di dekat tempat tinggalnya.

Krisis ini juga menyebabkan lonjakan harga BBM, dengan harga solar naik hampir 50 persen menjadi 31.560 kip per liter. Laos bahkan mencatat kenaikan harga bensin premium terbesar kedua di dunia pada awal konflik.

Pemerintah memberlakukan pembatasan untuk mencegah penimbunan, termasuk melarang pengisian BBM ke wadah seperti botol.

Selain itu, kementerian diminta membatasi pertemuan langsung dan masyarakat didorong beralih ke kendaraan listrik.

Seorang warga menyatakan terpaksa mengurangi mobilitas akibat kelangkaan ini, meski kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Situasi ini menunjukkan tekanan besar terhadap negara yang bergantung pada impor energi di tengah krisis global.

(Keysa Qanita)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)