Program MBG Tidak Terdampak Efisiensi Anggaran, Ini Alasannya

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Dok Kemenko Perekonomian

Program MBG Tidak Terdampak Efisiensi Anggaran, Ini Alasannya

Eko Nordiansyah • 17 March 2026 15:23

Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, tidak akan terdampak upaya efisiensi anggaran. Hal ini dikarenakan, program-program tersebut merupakan bentuk investasi jangka panjang.

"Program unggulan tidak ada yang diubah. Semua berjalan karena itu investasi jangka panjang," tegas Airlangga saat media gathering di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Senin, 16 Maret 2026.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Efisiensi belanja K/L demi jaga defisit

Airlangga mengatakan, sebagai langkah mitigasi terhadap situasi global yang dinamis, pemerintah berencana memotong anggaran sejumlah kementerian/lembaga K/L. Kebijakan ini diambil untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 tetap terjaga, tidak melebihi ambang batas tiga persen.

“Jadi yang pertama tadi terkait dengan skenario, itu adalah skenario saat kita kritis. Langkah yang diambil per hari ini adalah pemotongan anggaran supaya kita tidak lewat dari tiga persen,” ungkap dia.

Airlangga menjelaskan, durasi perang akan sangat menentukan langkah kebijakan pemerintah. Jika konflik masih berlangsung lima hingga enam bulan dampaknya masih berada di tahun anggaran berjalan.

"Jadi selama perangnya masih belum mencapai dalam tanda petik lima bulan, kita masih skenario pemotongan anggaran (K/L). Kita masih menggunakan maksimum defisit itu tiga persen," jelas dia.

Ia mengatakan, rencana pemotongan anggaran K/L tersebut bersifat dinamis dan sangat bergantung pada berbagai faktor termasuk harga minyak dunia. Meski harga minyak sedang melonjak, pemerintah turut mempertimbangkan adanya potensi kenaikan pendapatan negara dari sektor komoditas seperti batu bara, nikel, hingga kelapa sawit yang dapat memperkuat ketahanan fiskal.

"Ada juga pendapatan yang meningkat dari komoditas, baik itu dari minyak sendiri, batu bara, nikel bahkan kelapa sawit. Jadi karena ini masih sifatnya dinamis seperti pada saat Covid, kita juga mengevaluasi secara dinamis memonitor setiap bulan seperti apa. Kita kan belajar bahwa dalam suatu yang dinamis, kita tidak bisa membuat sesuatu menjadi statis," kata dia. (Surya Mahmuda)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)