Salah satu dampak bencana yakni jembatan putus diterjang banjir di Kabupaten Probolinggo beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-BPBD Probolinggo
BPBD Kabupaten Probolinggo Usulkan Status Tanggap Darurat Diperpanjang
Lukman Diah Sari • 25 March 2026 17:44
Probolinggo: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (Jatim) mengusulkan perpanjangan masa status tanggap darurat hingga 30 Juni 2026 seiring dengan potensi bencana yang masih cukup tinggi di kabupaten setempat.
"Status tanggap darurat bencana cuaca ekstrem dan hidrometeorologi basah yang sebelumnya berakhir pada 31 Maret 2026, saat ini diusulkan untuk diperpanjang hingga 30 Juni 2026," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief dalam zoom meeting rapat koordinasi (rakor) siaga bencana di kabupaten setempat, Rabu, 25 Maret 2026, melansir Antara.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto memimpin rakor siaga bencana yang diikuti seluruh Kepala organisasi perangkat daerah (OPD) serta camat se-Kabupaten Probolinggo.
"Kami mengusulkan perpanjangan status tanggap darurat hingga 30 Juni 2026 karena progres penanganan masih berjalan dan potensi bencana masih ada. Pelaksanaan di lapangan juga menunggu kondisi potensi bahaya berkurang," ungkap dia.

Salah satu dampak bencana yakni jembatan putus diterjang banjir di Kabupaten Probolinggo beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-BPBD Probolinggo
Menurut dia, kejadian bencana sejak awal tahun hingga saat ini masih didominasi banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Sehingga kondisi tersebut menyebabkan penanganan darurat masih terus berlangsung di sejumlah wilayah.
"Sejak awal tahun 2026, kejadian bencana di Kabupaten Probolinggo didominasi banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor. Hingga saat ini, penanganan darurat masih terus berjalan dan membutuhkan perhatian serta kesiapsiagaan bersama,” ujar dia.
Selama periode libur Lebaran, selain kejadian cuaca ekstrem dan tanah longsor, juga tercatat adanya satu kejadian kebakaran rumah serta krisis air bersih akibat tidak berfungsinya fasilitas PDAM di beberapa wilayah di Kabupaten Probolinggo, sehingga menjadi perhatian bersama BPBD Probolinggo untuk memastikan pelayanan dasar tetap berjalan.
Oemar mengatakan bahwa pada periode pancaroba Maret hingga April 2026, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem seperti angin kencang, puting beliung, petir serta hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat.
"Pada masa pancaroba ini, kita harus mewaspadai potensi angin kencang, puting beliung, petir dan hujan intensitas tinggi berdurasi singkat. Itu berpotensi memicu bencana lanjutan seperti banjir dan longsor," pesan dia.
"Memasuki bulan Juni, curah hujan mulai berkurang dan sebagian wilayah masuk musim kemarau. Namun, kita tetap harus waspada terhadap potensi bencana peralihan," ujarnya.
Ia menjelaskan persiapan menghadapi musim kemarau harus dilakukan sejak dini, khususnya untuk mengantisipasi krisis air bersih dan potensi kebakaran lahan, sehingga membutuhkan koordinasi lintas sektor. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan upaya mitigasi melalui berbagai program seperti pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana), pemasangan rambu kebencanaan serta penyusunan rencana kontingensi yang terintegrasi.
"Optimalisasi kolaborasi pentahelix dalam penanggulangan bencana yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi serta media perlu dilakukan karena penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga perlu kolaborasi pentahelix untuk memperkuat mitigasi dan respons," jelas dia.