Gempa Timor Tengah Utara NTT Dipicu Tumbukan Lempeng Indo-Australia

Ilustrasi gempa bumi. (Metrotvnews.com)

Gempa Timor Tengah Utara NTT Dipicu Tumbukan Lempeng Indo-Australia

Silvana Febiari • 21 April 2026 11:41

Timor Tengah Utara: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan peristiwa gempa bumi yang mengguncang wilayah Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) dipicu aktivitas zona tumbukan Lempeng Indo-Australia. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menjelaskan hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas pada zona tumbukan Lempeng Indo-Australia," kata dia, dilansir dari Antara, Selasa, 21 April 2026. 
 


Episenter gempa terletak pada koordinat 9,22 derajat Lintang Selatan (LS) dan 124,16 derajat Bujur Timur (BT), tepatnya berlokasi di laut pada jarak 54 kilometer arah barat laut Timor Tengah Utara pada kedalaman 60 kilometer.

Gempa yang terjadi pada pukul 10.17 WIB dilaporkan berdampak di Atambua dengan intensitas III–IV MMI, serta di Maumere dengan intensitas III MMI. Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada truk yang melintas.


Peta episentrum getaran gempa bumi bermagnitudo 6,0 di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 21 April 2026. ANTARA/HO-Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG


Selain itu, guncangan juga dirasakan di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kefamenanu, Malaka, Soe, Lembata, Larantuka, Alor, dan Ende, dengan skala intensitas II-III MMI. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Hasil monitoring BMKG mencatat satu kali gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo 3,2. Kejadian ini terdeteksi hingga pukul 10.45 WIB.

Pihaknya mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)