Pejabat AS Sebut Sanksi Ekonomi Bisa Lebih Menekan Iran Dibanding Serangan

Pejabat AS menilai sanksi ekonomi lebih efektif menekan Iran dibandingkan serangan militer. (Anadolu Agency)

Pejabat AS Sebut Sanksi Ekonomi Bisa Lebih Menekan Iran Dibanding Serangan

Muhammad Reyhansyah • 29 July 2026 07:05

Washington: Sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) meyakini tekanan melalui sanksi ekonomi dapat lebih merugikan Iran dibanding serangan militer, di tengah memburuknya kondisi ekonomi negara tersebut, demikian dilaporkan Axios pada Selasa, 28 Juli 2026.

Seorang pejabat senior AS mengatakan Teheran lebih menginginkan akses terhadap dana dibandingkan penghentian serangan militer.

"Iran ingin berhenti dibom dan mereka menginginkan uang. Namun, urutannya justru hampir terbalik. Mereka sebenarnya lebih menginginkan uang terlebih dahulu," kata pejabat tersebut, dikutip dari Anadolu.

Menurut laporan Axios, Iran tengah mencari jaminan agar tidak kembali diserang AS, akses terhadap aset yang dibekukan, serta pelonggaran sanksi. Namun, Presiden Donald Trump disebut menolak memberikan konsesi tersebut dan tetap menuntut Iran menyerahkan sisa material nuklirnya.

Pejabat senior AS itu juga mengatakan masih terdapat perbedaan pandangan di dalam Iran terkait usulan yang melibatkan Oman dalam pengelolaan lalu lintas Selat Hormuz.

"Sebagian pihak di Iran menginginkan hal itu. Sebagian lainnya tidak. Itulah salah satu persoalannya," ujarnya.

Tekanan Ekonomi terhadap Iran

Seorang pejabat AS lainnya mengatakan tekanan ekonomi mulai berdampak terhadap kemampuan Iran membiayai aktivitasnya.

"Intelijen kami menangkap adanya keluhan dari pihak Iran bahwa mereka tidak mampu membayar para pejuangnya. Mengapa? Karena tekanan finansial. Karena Kementerian Keuangan. Karena apa yang dilakukan (Menteri Keuangan) Scott Bessent," katanya.

Ia menambahkan, "Mereka menghadapi risiko penarikan dana besar-besaran dari perbankan. Terjadi kelangkaan bensin di negara yang kaya minyak ini. Mereka lebih takut kepada Kementerian Keuangan daripada Departemen Perang."

Pejabat AS lainnya juga mengklaim bahwa Iran telah menyampaikan kepada utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bahwa memperoleh akses terhadap dana menjadi prioritas utama.

"Mereka memohon kepada Steve dan Jared agar memberikan akses dana. Mereka sangat membutuhkannya," kata pejabat tersebut.

Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump tetap mengutamakan penyelesaian diplomatik, namun seluruh opsi masih terbuka apabila Iran terus melakukan aktivitas yang disebutnya sebagai tindakan teror di Selat Hormuz atau terhadap sekutu AS.

"Jika dipadukan dengan sanksi yang telah melumpuhkan perekonomian Iran dan 13 hari berturut-turut serangan terhadap sasaran militer sebagai respons atas agresi mereka, akan lebih bijaksana bagi Iran untuk menuju kesepakatan melalui perundingan. Jika tidak, mereka tahu apa yang akan terjadi," ujar Leavitt.

Meski demikian, menurut Axios, sejumlah pengamat menilai tekanan militer maupun sanksi ekonomi belum tentu mampu memaksa Iran memenuhi tuntutan pemerintahan Trump.

Analis Brett Erickson memperkirakan Iran masih memperoleh pendapatan minyak sekitar USD23 miliar pada paruh pertama tahun ini, melampaui proyeksi anggaran pemerintah.

Baca juga:  Bertemu Trump, Netanyahu Sebut AS-Israel Sepakat Cegah Iran Miliki Senjata Nuklir

(Willy Haryono)