Perusahaan Biofarmasi Jepang Siap Investasi Rp539 Miliar di Indonesia

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani. Metrotvnews.com/Duta Erlangga

Perusahaan Biofarmasi Jepang Siap Investasi Rp539 Miliar di Indonesia

Eko Nordiansyah • 14 July 2026 14:48

Jakarta: Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyampaikan perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda akan melakukan investasi hingga USD30 juta atau sekitar Rp539 miliar dalam pengembangan ekosistem produk obat derivat plasma (PODP) di Indonesia.

Investasi tersebut merupakan tahap awal selama dua tahun untuk membangun jaringan bank plasma sebagai fondasi pengembangan industri plasma nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, investasi Takeda mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan investor global terhadap prospek investasi Indonesia, khususnya pada sektor industri kesehatan berteknologi tinggi.

Investasi ini merupakan investasi strategis yang tidak hanya menghadirkan tambahan modal, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja berketerampilan tinggi. Pemerintah terus mendorong investasi yang memberikan nilai tambah dan memperkuat kapasitas industri nasional sehingga Indonesia dapat menjadi pusat manufaktur dan inovasi kesehatan di kawasan, ujar dia dalam pernyataan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 14 Juli 2026.

Menurut dia, kemitraan ini juga sejalan dengan agenda transformasi ekonomi melalui hilirisasi di berbagai sektor strategis, termasuk kesehatan, guna meningkatkan daya saing industri nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.


class=big_center
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Jepang di urutan ke-5 investor utama

Ia menyampaikan, Jepang sendiri merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di bidang investasi. Berdasarkan catatan pihaknya, pada kuartal I tahun 2026, Jepang menempati peringkat kelima jajaran investor utama Indonesia, dengan angka penanaman modal mencapai USD1 miliar.

Sedangkan total capaian realisasi Jepang pada periode 2021 hingga kuartal I 2026 mencapai USD18,1 miliar, dengan pertumbuhan rata-rata 13,2 persen yang menyerap tenaga kerja sebanyak 299.460 orang.

Menurut Rosan, ini menjadi landasan kuat bagi pengembangan kerja sama investasi di berbagai sektor prioritas, termasuk kesehatan.

Lebih lanjut, melalui kolaborasi ini, pihaknya berharap Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma yang sangat dibutuhkan, tetapi juga membangun ekosistem industri biofarmasi yang berdaya saing, inovatif, dan berkelanjutan.

Adapun untuk bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari pengembangan jaringan plasma nasional yang memenuhi standar global.

(Eko Nordiansyah)