Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. (Anadolu Agency)
Kuba Tak Gentar Hadapi Ancaman AS soal Pasokan Minyak Venezuela
Willy Haryono • 12 January 2026 08:47
Havana: Pemerintah Kuba mengaku tak gentar usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Havana tidak akan lagi menerima minyak atau uang Venezuela. Selama ini, Venezuela dikenal sebagai pemasok minyak terbesar bagi Kuba.
Namun, data pelayaran menunjukkan tidak ada kargo yang berangkat dari pelabuhan Venezuela menuju negara Karibia tersebut sejak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS pada awal Januari, di tengah blokade ketat minyak AS terhadap negara anggota OPEC itu.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menolak ancaman Trump melalui media sosial, dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki otoritas moral untuk memaksakan kesepakatan kepada Kuba.
“Kuba adalah negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat. Tidak ada yang mendikte apa yang kami lakukan,” tulis Díaz-Canel di platform X.
“Kuba tidak menyerang; Kuba telah diserang oleh AS selama 66 tahun, dan Kuba tidak mengancam; Kuba bersiap, siap membela tanah air hingga tetes darah terakhir," sambungnya, dikutip dari The New Arab, Senin, 12 Januari 2026.
Presiden AS tidak merinci lebih lanjut kesepakatan yang ia maksud. Namun, tekanan Trump terhadap Kuba mencerminkan eskalasi terbaru dalam upayanya menertibkan kekuatan regional agar sejalan dengan Amerika Serikat, sekaligus menegaskan ambisi serius pemerintahannya untuk mendominasi Belahan Bumi Barat.
Para pejabat utama Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, tidak menyembunyikan harapan bahwa intervensi AS baru-baru ini di Venezuela dapat mendorong Kuba ke titik kritis.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez mengatakan dalam unggahan lain di X pada Minggu bahwa Kuba berhak mengimpor bahan bakar dari pemasok mana pun yang bersedia mengekspornya. Ia juga membantah bahwa Kuba menerima kompensasi finansial atau “materi” lainnya sebagai imbalan atas layanan keamanan yang diberikan kepada negara mana pun.
Sebanyak 32 anggota angkatan bersenjata dan dinas intelijen Kuba tewas dalam penggerebekan AS di Venezuela. Kuba menyatakan para korban bertanggung jawab atas “keamanan dan pertahanan”, namun tidak merinci pengaturan kerja sama antara dua sekutu lama tersebut.
Kuba bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar, terutama dari Venezuela serta Meksiko dalam jumlah lebih kecil, yang dibeli di pasar terbuka untuk menjaga pembangkit listrik dan kendaraan tetap beroperasi. Seiring menurunnya kapasitas penyulingan operasional dalam beberapa tahun terakhir, pasokan minyak dan bahan bakar Venezuela ke Kuba memang menyusut.
Meski demikian, Venezuela tetap menjadi pemasok terbesar, dengan sekitar 26.500 barel per hari diekspor tahun lalu, menurut data pelacakan kapal dan dokumen internal perusahaan minyak negara PDVSA, yang mencakup sekitar 50 persen defisit minyak Kuba.
Baca juga: Trump Tegaskan Kuba Tak Akan Lagi Terima Uang atau Minyak dari Venezuela