Pembangkit listrik tenaga nuklir Mihama milik Kansai Electric Power Co. di Mihama, Prefektur Fukui. Foto: Kyodo News
Jamin Pasokan Listrik, Jepang Targetkan Bangun Kembali 14 Reaktor Nuklir
Muhammad Reyhansyah • 6 June 2026 09:05
Tokyo: Jepang perlu membangun kembali antara dua hingga lima reaktor nuklir yang menua pada dekade 2040-an dan sebanyak 11 hingga 14 reaktor pada dekade 2050-an guna menjamin pasokan listrik yang stabil.
Usulan tersebut disampaikan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) dalam rancangan kebijakan yang dipaparkan pada pertemuan mengenai energi nuklir pada Jumat, 5 Juni 2026.
Menurut METI, pembangunan hingga 14 pembangkit listrik tenaga nuklir baru akan menghasilkan kapasitas sekitar 16 gigawatt (GW).
Melansir Channel News Asia, rencana itu mencerminkan pergeseran kebijakan Jepang menuju pemanfaatan energi nuklir yang lebih besar untuk memenuhi peningkatan kebutuhan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar yang mahal.
Setelah bencana nuklir Fukushima pada 2011, Jepang menghentikan seluruh 54 reaktor nuklir yang saat itu beroperasi karena meningkatnya kekhawatiran publik terhadap standar keselamatan industri tersebut. Dari 33 unit yang saat ini masih dinilai layak beroperasi, sebanyak 15 reaktor telah kembali diaktifkan.
Permintaan Energi Diperkirakan Terus Meningkat
Pemerintah Jepang tahun lalu merevisi kebijakan energi dasarnya dengan menargetkan pemanfaatan energi nuklir secara maksimal.Namun, banyak reaktor yang masih beroperasi saat ini mendekati atau bahkan telah melampaui masa operasional 60 tahun.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai potensi penurunan kapasitas pembangkit nuklir di masa depan meskipun reaktor yang tidak aktif terus dihidupkan kembali.
Melalui penetapan target penggantian reaktor secara lebih konkret, pemerintah berharap dapat memberikan kepastian yang lebih besar kepada perusahaan utilitas dalam menyusun rencana investasi jangka panjang.
Langkah tersebut juga diambil karena kebutuhan listrik diperkirakan meningkat tajam, terutama akibat berkembangnya pusat data yang mendukung teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam rencana energi saat ini, Jepang menargetkan kontribusi energi nuklir mencapai sekitar 20 persen dari bauran listrik nasional pada tahun fiskal 2040, atau hampir dua kali lipat dibandingkan tingkat saat ini.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dikenal sebagai pendukung kuat energi nuklir. Ia mendorong peningkatan penggunaan energi nuklir untuk menekan biaya impor batu bara, gas, dan minyak yang saat ini masih menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen pembangkitan listrik Jepang.
Meski demikian, kepercayaan publik terhadap energi nuklir belum sepenuhnya pulih sejak insiden Fukushima.
Keraguan tersebut juga diperkuat oleh sejumlah kontroversi terbaru, termasuk kasus pemalsuan penilaian risiko gempa yang melibatkan Chubu Electric terkait pembangkit listrik tenaga nuklir Hamaoka.