Bangunan yang roboh akibat gempa yang melanda Filipina. Foto: Anadolu
Gempa Magnitudo 7,8 Guncang Filipina, 32 Orang Dilaporkan Tewas
Fajar Nugraha • 9 June 2026 10:42
Manila: Jumlah korban tewas akibat gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang lepas pantai Pulau Mindanao, Filipina selatan, pada Senin, 8 Juni, dilaporkan telah meningkat menjadi 32 orang.
Otoritas penanggulangan bencana setempat mengatakan puluhan warga lainnya mengalami luka-luka di saat pemerintah Manila mulai mengintensifkan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).
Gempa bumi yang sempat memicu peringatan dini tsunami di beberapa negara tersebut terjadi pada pagi hari, dengan pusat gempa berada sekitar 20 kilometer dari Provinsi Sarangani. Getaran masif dirasakan kuat di seluruh Pulau Mindanao hingga menjangkau wilayah sejauh 420 kilometer di Kota Manado, Pulau Sulawesi, Indonesia.
Pemerintah Filipina langsung memobilisasi tim militer dan penanggulangan bencana guna memitigasi dampak kerusakan. Pejabat pertahanan sipil kini tengah memverifikasi laporan awal mengenai 32 korban tewas dan 134 korban luka di Mindanao, di mana mayoritas korban tertimpa reruntuhan bangunan serta material tanah longsor.
Peringatan dini tsunami akhirnya resmi dicabut setelah sempat aktif selama lebih dari enam jam di wilayah Filipina selatan, Indonesia bagian utara, dan negara bagian Sabah di Malaysia. Sebelumnya, warga yang bermukim di sepanjang kawasan pesisir pantai sempat diinstruksikan untuk segera mengungsi ke dataran yang lebih tinggi.
Merespons bencana tersebut, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan kesiapan pemerintahannya untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada Filipina guna mempercepat pemulihan pascabencana.
"Saya berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan semua pihak yang terdampak, serta berharap mereka diberikan kekuatan dan keberanian dalam menghadapi hari-hari sulit ke depan," tulis Anwar melalui akun X pribadinya, seperti dikutip Asia One, pada Selasa, 9 Juni 2026.
Bencana alam ini melanda hanya berselang delapan bulan setelah Filipina dihantam gempa paling mematikan dalam 12 tahun terakhir, yakni gempa dangkal magnitudo 6,9 di dekat Pulau Cebu yang menewaskan 79 orang. Dua minggu pascainsiden Cebu tersebut, wilayah Mindanao juga sempat diguncang dua gempa kuat, dengan kekuatan tertinggi mencapai magnitudo 7,4.
Presiden Ferdinand Marcos Jr segera menginstruksikan percepatan tanggap darurat di Mindanao, sebuah pulau strategis yang memiliki ukuran wilayah hampir seluas negara Korea Selatan. Jajaran kementerian terkait diperintahkan untuk segera menyiapkan pasokan bantuan logistik, mendirikan posko pengungsian, serta menyiagakan personel untuk operasi penyelamatan lanjutan.
"Pemerintah nasional sedang bergerak dan kami tidak akan meninggalkan Mindanao," tegas Presiden Marcos Jr dalam pernyataan resminya.
Secara geografis, Filipina dan Indonesia merupakan wilayah yang rutin diguncang ratusan gempa setiap tahunnya karena terletak di zona tektonik yang kompleks pada Cincin Api Pasifik, sebuah jalur seismik aktif yang membentang dari Amerika Selatan hingga ujung Rusia Timur. Proses penilaian tingkat kerusakan pada bangunan, fasilitas umum, dan infrastruktur hingga kini masih terus berjalan.
Wilayah yang teridentifikasi mengalami dampak terparah adalah General Santos, sebuah kota berpenduduk sekitar 700.000 jiwa, di mana deretan pertokoan dan gedung perkantoran hancur lebat hingga berubah menjadi tumpukan beton serta puing-puing bangunan.
Rekaman video yang dirilis oleh pemerintah daerah setempat memperlihatkan momen mencekam runtuhnya sebuah gedung restoran cepat saji, yang memicu kepanikan warga di sekitar lokasi saat kepulan debu tebal menyebar cepat di udara.
Akibat dari guncangan struktural tersebut, salah satu rumah sakit di General Santos terpaksa dievakuasi setelah ditemukan retakan pada dinding lantai atas. Kerusakan serupa juga melanda salah satu gedung di Universitas Notre Dame of Dadiangas yang dilaporkan runtuh, meski tidak ada korban jiwa karena gedung dalam kondisi kosong.
"Saya harus merunduk dan berlindung di bawah meja. Guncangannya terasa sangat lama dan kuat," ujar rektor universitas tersebut, Manuel de Leon, saat memberikan kesaksian kepada stasiun radio DZMM.
Badan Seismologi Filipina mencatat telah terjadi lebih dari 200 gempa susulan pascagempa utama, di mana sedikitnya sembilan guncangan di antaranya bermagnitudo kuat hingga dirasakan di seluruh Mindanao dengan kekuatan tertinggi mencapai magnitudo 6,7. Gempa bumi besar ini melanda tepat saat anak-anak sekolah baru saja kembali masuk setelah menjalani masa libur panjang.
Sebuah rekaman video dari salah satu fasilitas sekolah menunjukkan momen dramatis saat gempa mengguncang, memperlihatkan sekelompok besar siswa yang sedang duduk di lantai terombang-ambing cepat ke kanan dan kiri, di mana beberapa anak tampak memeluk guru mereka sebelum akhirnya berhamburan menyelamatkan diri sesaat sebelum atap pelindung darurat di belakang mereka ambruk.
Kepala Kepolisian Kota Alabel di Sarangani, Benjie Ancheta, mengonfirmasi bahwa gempa terjadi tepat saat personel kepolisian sedang melaksanakan upacara bendera, yang menyebabkan beberapa peserta upacara sempat pingsan akibat panik.
"Ini adalah gempa terkuat yang pernah kami alami," ungkap Ancheta melalui sambungan telepon.
Sistem Peringatan Tsunami AS sempat merilis analisis bahwa bencana ini berpotensi berdampak pada beberapa negara tetangga, bahkan Australia sempat mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tsunami di pesisir utara mereka.
Badan Meteorologi Jepang juga merilis peringatan serupa dan melaporkan adanya aktivitas gelombang tsunami kecil setinggi 0,2 meter atau lebih rendah di wilayahnya, yang sempat memicu gangguan jadwal feri serta penutupan sementara fasilitas pantai. Sejumlah saksi mata di Kota Manado, Indonesia, membenarkan bahwa mereka merasakan getaran gempa yang sangat kuat.
Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa guncangan tersebut hanya menimbulkan dampak kerusakan minor pada bangunan di wilayah Indonesia. Kendati demikian, aktivitas gelombang tsunami dengan ketinggian mencapai 0.75 meter terpantau sempat terdeteksi di beberapa kawasan di Sulawesi Utara.
Kondisi tersebut memicu gelombang evakuasi mandiri oleh warga ke tempat yang lebih aman, termasuk para penduduk di Kepulauan Sangihe yang lokasinya berada paling dekat dengan wilayah Filipina.
(Kelvin Yurcel)