Mangkunegara X sambut kedatangan biksu thudong. (Metrotvnews.com/Tria)
Biksu Thudong dari Empat Negara Tiba di Solo, Disambut Mangkunegara X
Triawati Prihatsari • 23 May 2026 18:29
Solo: Rombongan Biksu Thudong dari empat negara di Asia Tenggara tiba di Kota Solo, Sabtu, 23 Mei 2026. Mereka tiba di Vihara Dhamma Sundara Pucangsawit, Jebres, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah.
Para Biksu Thudong Disambut abdi dalem berpakaian prajurit di pintu masuk Pamedan. Selanjutnya, para biksu dijamu teh hangat dan tur keliling museum Pura Mangkunegaran.
"Ada sebanyak 57 biksu dari Malaysia, Thailand, Laos dan Indonesia melaksanakan perjalanan spiritual. Mulai dari Singaraja Bali, menuju Candi Borobudur dalam rangka memperingati Hari Tri Suci Waisak," ungkap perwakilan biksu, Bhante Tejapunno Mahathera, di Solo, Sabtu, 23 Mei 2026.

Mangkunegara X sambut kedatangan biksu thudong. (Metrotvnews.com/Tria)
Pihaknya mengapresiasi Pura Mangkunegaran yang telah memberikan sambutan hangat pada para biksu. Dia berharap kedatangannya bersama para biksu membawa manfaat bagi semuanya. Dia juga meminta doa agar perjalanan menuju Candi Borobudur lancar dan dengan kondisi sehat.
"Kami menyampaikan terima kasih untuk sambutannya, terima kasih untuk semua sarana fasilitas yang diberikan dari semenjak kami memasuki area keraton (Mangkunegaran). Harapan kami semua para biksu yang hadir juga membawa manfaat bagi semuanya," beber Bhante Tejapunno Mahathera.
"Langkah-langkah Yang Mulia melintasi negara, kota, dan komunitas membawa sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia saat ini. Kedamaian, welas asih, kerendahan hati dan kemanusiaan," ungkap KGPAA Mangkunegara X.
Ia menyebut pentingnya menjaga nilai harmoni, toleransi dan persatuan di tengah dunia yang semakin cepat namun kerap diwarnai perpecahan dan intoleransi. Dalam hal ini, budaya dan tradisi seharusnya menjadi ruang yang mendekatkan manusia satu sama lain, serta memperkuat pengertian dan empati antarsesama.
"Kami percaya budaya seharusnya tidak memisahkan manusia, melainkan mendekatkan satu sama lain. Tradisi tidak seharusnya menciptakan jarak, tetapi memperdalam pengertian dan empati antarmanusia," ujar Mangkunegaran X.