Operasi Absolute Resolve, Cara AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Serangan AS di Venezuela. (Truth Social Donald Trump)

Operasi Absolute Resolve, Cara AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Riza Aslam Khaeron • 4 January 2026 15:03

Jakarta: Serangan "skala besar" Amerika Serikat ke ibu kota Venezuela, Caracas, berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Minggu, 4 Januari 2026. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa keduanya telah diterbangkan keluar dari Venezuela oleh pasukan AS dan akan diadili di New York atas tuduhan perdagangan narkoba dan pelanggaran senjata.

Gedung Putih disebut telah merancang operasi penangkapan Maduro selama berbulan-bulan, menyusul tuduhan keterlibatannya dalam jaringan perdagangan narkoba ke wilayah AS.

Operasi ini merupakan bagian dari kampanye militer yang lebih luas, termasuk operasi Southern Spear yang sebelumnya telah menghantam kapal-kapal yang dituduh digunakan untuk menyelundupkan narkoba. Berikut rincian mendalam tentang bagaimana Operasi Absolute Resolve dijalankan.
 

Persiapan Sejak Bulan Agustus

Melansir The New York Times, fondasi Operasi Absolute Resolve dibangun sejak Agustus 2025, ketika sebuah tim rahasia CIA menyusup ke Venezuela untuk mengumpulkan informasi tentang pergerakan harian Maduro. Dengan Kedutaan Besar AS di Caracas tutup, para perwira CIA disebut bekerja tanpa diplomatic cover dan tetap tidak terdeteksi selama berbulan-bulan.

Intelijen lapangan itu dipadukan dengan dua sumber penting lain: seorang sumber manusia yang dekat dengan Maduro, serta armada drone siluman yang terbang secara rahasia di atas Caracas. Kombinasi ini memungkinkan pemetaan rinci tentang rutinitas Maduro.

Jenderal Dan Caine—ketua Joint Chiefs of Staff AS—mengatakan informasi yang terkumpul membuat AS mengetahui ke mana Maduro bergerak, apa yang ia makan, bahkan hewan peliharaan yang ia pelihara.

Namun, posisi target disebut sangat dinamis. Maduro berpindah-pindah antara enam hingga delapan lokasi, dan AS tidak selalu mengetahui tempat ia akan bermalam sampai larut malam. Karena itu, komponen intelijen real-time menjadi penentu: operasi baru dapat dieksekusi ketika ada konfirmasi bahwa Maduro berada di lokasi yang telah menjadi sasaran latihan.

Di level taktis, Delta Force berlatih operasi "penangkapan" di sebuah model skala penuh kompleks Maduro yang dibangun Joint Special Operations Command di Kentucky. Latihan difokuskan pada rute masuk dan penyerbuan cepat, termasuk latihan menembus pintu baja dengan kecepatan yang terus ditingkatkan. Bahkan disebut ada blowtorch yang disiapkan untuk skenario terburuk.

Penumpukan kekuatan di kawasan dilakukan bertahap. Dalam beberapa hari menjelang penggerebekan, AS mengirim tambahan pesawat operasi khusus, pesawat perang elektronik, drone Reaper bersenjata, helikopter pencarian dan penyelamatan, hingga jet tempur.

Sebelum misi penangkapan, AS juga meningkatkan tekanan lewat serangan drone CIA terhadap fasilitas pelabuhan, serta menghancurkan puluhan kapal yang dituduh terkait penyelundupan narkoba, dengan korban tewas mencapai sedikitnya 115 orang di Karibia dan Pasifik timur.

Menjelang operasi sempat ada upaya kesepakatan: Maduro disebut menawarkan akses minyak Venezuela, sementara sebuah rencana mengarah pada opsi Maduro meninggalkan negara itu menuju Turki pada 23 Desember 2025. Namun, pembicaraan berakhir buntu dan menjadi pemicu langsung menuju opsi penangkapan.

Trump memberi otorisasi agar operasi bisa dijalankan paling cepat 25 Desember 2025, tetapi penentuan hari-H diserahkan ke Pentagon dan perencana operasi khusus. Pertimbangan utamanya: cuaca, peluang mengurangi korban sipil, serta momentum libur akhir tahun ketika banyak pejabat pemerintah cuti dan sejumlah personel militer Venezuela izin.
 

Operasi Dilancarkan dan Penangkapan Maduro

Fase eksekusi dilakukan pada Jumat, 2 Januari 2026. Sekitar pukul 16.30 waktu AS, persetujuan awal diberikan untuk menerbangkan sebagian aset—namun otorisasi penuh belum otomatis menyusul. Selama sekitar enam jam berikutnya, para pejabat memantau kondisi lapangan, termasuk cuaca dan kepastian lokasi Maduro.

Momen perintah akhir terjadi pada pukul 22.46 EST dari Mar-a-Lago. General Caine mengisyaratkan operasi sempat nyaris dijalankan beberapa hari sebelumnya, tetapi ditunda karena cuaca dan kebutuhan memastikan kondisi optimal.

Di dalam Venezuela, operasi dibuka dengan serangan siber yang memutus listrik di wilayah luas Caracas. Trump menggambarkannya sebagai pemadaman yang terjadi karena "keahlian tertentu" yang dimiliki AS. Gelapnya kota dipakai untuk memberi perlindungan bagi pergerakan armada udara menuju target.

Lebih dari 150 pesawat militer—termasuk drone, jet tempur, dan pembom—terlibat, lepas landas dari sekitar 20 pangkalan militer dan kapal Angkatan Laut AS. Sekitar pukul 02.00 dini hari Sabtu, 3 Januari 2026, ledakan besar mengguncang Caracas ketika pesawat perang AS menghantam instalasi radar serta baterai pertahanan udara.

Berdasarkan laporan NYT, banyak ledakan dramatis yang terekam media sosial sebenarnya berkaitan dengan penghancuran instalasi radar dan menara transmisi radio.

Setelah jalur udara dinyatakan lebih aman, helikopter yang membawa pasukan operasi khusus bergerak ke lokasi Maduro pada sekitar pukul 02.01 waktu setempat. General Caine mengatakan helikopter datang di bawah tembakan dan merespons dengan "overwhelming force". Salah satu helikopter terkena tembakan, namun tetap dapat terbang. Sekitar setengah lusin prajurit AS mengalami luka.

Delta Force—yang ditugaskan menangkap Maduro—dibawa oleh 160th Special Operations Aviation Regiment (Night Stalkers), unit penerbangan operasi khusus yang dikenal untuk misi berisiko tinggi, terbang rendah, dan operasi malam.

Begitu mendarat, pasukan menggunakan bahan peledak untuk membuka akses masuk. Pasukan hanya membutuhkan sekitar tiga menit setelah pintu dibobol untuk bergerak melewati bangunan menuju lokasi Maduro.

Trump menyatakan Maduro dan Flores sempat mencoba melarikan diri ke sebuah ruangan yang diperkuat baja.

"Dia mencoba mencapai tempat yang aman, yang sebenarnya tidak aman, karena kami bisa saja meledakkan pintunya dalam waktu sekitar 47 detik," ujar Trump. Namun Maduro tidak sempat menutupnya. Sekitar lima menit sejak masuk, Delta Force melaporkan Maduro dalam tahanan.

Melansir NYT, militer AS saat itu didampingi negosiator sandera FBI sebagai antisipasi jika target mengunci diri atau menolak menyerah. Namun, skenario negosiasi itu tidak diperlukan.
 

Baca Juga:
Detik-Detik Penangkapan Maduro: Operasi AS dan Upaya Kabur Terakhir ke Ruang Baja

 

Penangkapan Maduro dan Penahanan di Iwo Jima

Setelah berada dalam tahanan, Maduro dan Flores segera dievakuasi dengan helikopter. Pada pukul 04.29 waktu Caracas, keduanya dipindahkan ke USS Iwo Jima, kapal perang AS yang berada sekitar 100 mil dari lepas pantai Venezuela selama operasi. Dari sana, mereka dipindahkan ke pangkalan AL AS di Guantánamo Bay, lalu diterbangkan menggunakan pesawat pemerintah menuju area New York untuk menghadapi proses hukum.

Di Venezuela, dampak serangan memunculkan laporan korban tewas. Setidaknya 40 orang dilaporkan tewas pada hari serangan, termasuk personel militer dan warga sipil, berdasarkan laporan awal.

Sementara itu di Washington, operasi segera memicu perdebatan keras mengenai dasar hukum dan otorisasinya. Kongres tidak diberi tahu atau dikonsultasikan sebelumnya; pemberitahuan baru dilakukan ketika operasi sudah berjalan.

"Izinkan saya tegaskan: Nicolás Maduro adalah diktator yang tidak sah. Namun, melancarkan aksi militer tanpa otorisasi dari Kongres dan tanpa rencana kredibel tentang langkah selanjutnya adalah tindakan yang sembrono," ujar Ketua Fraksi Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, mengutip BBC.

Pemerintahan Trump membalas kritik itu dengan argumen kerahasiaan. Marco Rubio menyatakan memberi pengarahan sebelumnya berisiko membocorkan misi.

"Kongres cenderung suka membocorkan informasi, hal itu tidak bagus," kata Trump.

Perdebatan tak berhenti pada legalitas. Trump membenarkan operasi sebagai perang melawan narkoba, tetapi pada hari yang sama ia juga menyatakan AS "mengendalikan" Venezuela dan akan membangun kembali infrastruktur minyaknya.

Beberapa pemimpin Amerika Latin mengecam keras. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menilai penangkapan dengan kekerasan itu menciptakan preseden yang sangat berbahaya bagi komunitas internasional.

Di sisi lain, Trump menyampaikan sinyal bahwa operasi dapat berlanjut. Ia mengatakan AS siap melakukan gelombang serangan kedua bila diperlukan dan mengeluarkan peringatan bahwa pemimpin Venezuela lain dapat ikut menjadi target.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)