Qatar Berupaya Hidupkan Kembali Perundingan AS-Iran, Selat Hormuz Jadi Sorotan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari. (Anadolu Agency)

Qatar Berupaya Hidupkan Kembali Perundingan AS-Iran, Selat Hormuz Jadi Sorotan

21 September 2026 06:18

Doha: Qatar mengatakan tim mediasinya telah membahas berbagai proposal selama hampir dua pekan untuk mengupayakan kembali perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

“Kami telah bertukar berbagai gagasan selama hampir dua pekan mengenai dimulainya kembali pembicaraan antara Washington dan Teheran,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari, menurut media Qatar yang dikutip Anadolu Agency, Minggu, 20 September 2026.

Qatar bersama Pakistan selama ini menjadi mediator antara kedua pihak.

“Kami bekerja melalui tim mediasi dengan Teheran dan Washington untuk melihat apakah pembicaraan dapat dilanjutkan. Para mediator kami saat ini bergerak di antara berbagai ibu kota dengan harapan dapat mencapai kemajuan dalam jalur ini,” ujar al-Ansari.

Ia mengatakan Qatar telah menerima jaminan dari sejumlah pejabat pemerintahan AS bahwa Washington ingin mencapai kesepakatan.

Al-Ansari juga mengatakan diperlukan “solusi regional yang menciptakan stabilitas dan pemahaman internasional yang melindungi jalur perairan seperti Selat Hormuz."

“Menempatkan jalur perairan di bawah kedaulatan satu negara dan menggunakannya sebagai senjata akan menciptakan preseden berbahaya bagi kita semua,” katanya.

Kebuntuan Perundingan

AS baru-baru ini melakukan serangan militer terhadap sejumlah lokasi di Iran di tengah kebuntuan perundingan akibat perbedaan mengenai navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur terpenting dunia bagi pasokan energi dan perdagangan global. Serangan tersebut terjadi meski kedua pihak telah menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni.

Iran merespons dengan menyerang apa yang disebutnya sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi. Beberapa serangan tersebut menyebabkan korban sipil dan kerusakan infrastruktur sipil, yang kemudian memicu kecaman dari negara-negara terdampak serta seruan agar serangan dihentikan.

AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Menurut Teheran, konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran kemudian merespons dengan serangan yang menurut mereka menewaskan warga Amerika dan Israel.

Pernyataan Qatar tersebut disampaikan setelah Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keamanan pada Minggu. Dalam peringatan itu disebutkan bahwa situasi keamanan di Timur Tengah tetap kompleks di tengah ketegangan kawasan, dengan kemungkinan terjadinya eskalasi yang tidak terduga.

Imbauan Perjalanan

Departemen Luar Negeri AS meminta warga negaranya di kawasan tersebut untuk berhati-hati dan warga AS di luar kawasan untuk mempertimbangkan kembali perjalanan menuju atau melalui Timur Tengah.

Sejumlah Kedutaan Besar AS di kawasan, termasuk di Uni Emirat Arab, Irak, dan Yordania, juga mengeluarkan peringatan serupa pada Minggu.

Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menjelaskan pendekatannya terhadap perang tersebut dalam wawancara dengan jaringan televisi Fox News.

“Pertanyaan saya adalah, jika dan kapan saya menghancurkan seluruh negara itu? Mereka sebaiknya berperilaku baik,” kata Trump.

Trump menyebut pilihannya saat ini adalah menghancurkan Iran, membiarkan perekonomiannya “membusuk," atau melakukan negosiasi untuk mencapai kesepakatan. Ia juga mengatakan “hal-hal yang sangat besar akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama."

Baca juga: Iran Klaim AS Akan Lancarkan Serangan Baru, Teheran Siapkan Balasan