Iran Ingatkan AS soal Opsi Militer dan Dorong Jalur Diplomasi

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi

Iran Ingatkan AS soal Opsi Militer dan Dorong Jalur Diplomasi

Muhammad Reyhansyah • 16 January 2026 12:03

Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar tidak mengulangi apa yang ia sebut sebagai “kesalahan” dalam konfrontasi militer sebelumnya, seraya menegaskan bahwa Teheran tetap terbuka terhadap jalur diplomasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara dengan media Amerika Serikat.

“Pesan saya adalah, jangan mengulangi kesalahan yang Anda buat pada Juni. Jika Anda mencoba pengalaman yang gagal, Anda akan mendapatkan hasil yang sama,” kata Menteri Luar Negeri Iran Araghchi kepada Fox News, merujuk pada serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran dalam perang Iran-Israel yang berlangsung selama 12 hari pada Juni lalu.

“Anda menghancurkan fasilitas-fasilitas itu, tetapi teknologi tidak bisa dibom, tekad juga tidak bisa dibom,” ujar Araghchi, menanggapi meningkatnya ketegangan serta sikap Washington terhadap Teheran.

Araghchi mengakui bahwa Iran tidak memiliki pengalaman positif dalam hubungannya dengan Amerika Serikat, namun menegaskan bahwa negosiasi tetap menjadi pilihan yang lebih baik. “Iran telah membuktikan bahwa kami siap untuk bernegosiasi, siap untuk diplomasi,” katanya, seperti dikutip Anadolu, Kamis, 15 Januari 2026.

“Kami memiliki bukti bahwa dalam 20 tahun terakhir, setiap saat, tetapi Amerika Serikat selalu meninggalkan diplomasi, yang memutus jalur diplomasi setelah perang. Pesan saya adalah bahwa di antara perang dan diplomasi, diplomasi adalah jalan yang lebih baik, meskipun kami tidak memiliki pengalaman positif dengan Amerika Serikat, tetapi diplomasi tetap jauh lebih baik daripada perang,” ujarnya.

Terkait gelombang kerusuhan yang terjadi baru-baru ini di Iran, Araghchi menyatakan pemerintahnya telah menunjukkan “pengendalian diri maksimal”, namun menuding aksi protes tersebut telah dibajak oleh unsur-unsur kekerasan.

Ketika ditanya mengenai jumlah korban tewas dalam protes tersebut, ia mengklaim bahwa pihak yang terlibat bentrokan bukanlah pengunjuk rasa sejati, melainkan “sel teror” yang digerakkan oleh “rencana Israel”.

“Elemen teroris yang dipimpin dari luar masuk ke dalam protes ini dan mulai menembaki pasukan kepolisian, petugas polisi, dan aparat keamanan. Selama tiga hari, kami berperang melawan teroris, bukan melawan para pengunjuk rasa,” katanya.

“Itu sepenuhnya merupakan rencana Israel. Mereka ingin menyeret Presiden Amerika Serikat ke dalam konflik ini. Karena itu mereka mulai meningkatkan jumlah korban dengan membunuh warga sipil dan petugas polisi,” klaimnya.

Ia menambahkan bahwa situasi kini telah terkendali. “Sekarang situasinya tenang. Kami sepenuhnya mengendalikan keadaan. Dan semoga kebijaksanaan akan menang,” ujarnya, seraya memperingatkan bahwa eskalasi ketegangan akan menjadi “bencana bagi semua pihak”.

Pernyataan Araghchi disampaikan di tengah meningkatnya retorika pejabat Amerika Serikat terhadap Iran, seiring protes yang meluas sejak akhir bulan lalu akibat memburuknya kondisi ekonomi.

Pada Selasa, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada CBS News bahwa Washington akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran melakukan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.

Pejabat Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik “kerusuhan” dan “terorisme” yang terjadi selama aksi protes tersebut.

Hingga kini, otoritas Iran belum merilis angka resmi mengenai korban tewas atau jumlah penahanan. Kelompok Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat memperkirakan sedikitnya 2.500 orang tewas, termasuk pengunjuk rasa dan aparat keamanan, dengan lebih dari 1.100 orang terluka.

Kelompok tersebut juga menyebut lebih dari 18.000 orang telah ditahan, meskipun angka-angka itu belum diverifikasi secara independen dan berbeda dari perkiraan lainnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)