Kementerian PKP Pastikan Bunga FLPP Tetap 5% hingga Kredit Lunas

Ilustrasi perumahan subsidi. Foto: Metro TV/Rendy Ferdiansyah.

Kementerian PKP Pastikan Bunga FLPP Tetap 5% hingga Kredit Lunas

Husen Miftahudin • 28 June 2026 16:59

Jakarta: Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) memastikan suku bunga program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tetap sebesar lima persen hingga akhir tenor kredit.

Sekretaris Jenderal Kementerian PKP Didyk Choiroel menegaskan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) tidak memengaruhi cicilan rumah subsidi yang disalurkan melalui skema FLPP.

"Program FLPP sangat berpihak kepada rakyat. Penerimanya merupakan masyarakat berpenghasilan rendah sesuai kriteria dalam Permen PKP Nomor 5 Tahun 2025," ujar Didyk dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu, 28 Juni 2026.

"Selain harga rumah yang terjangkau, masyarakat juga memperoleh suku bunga tetap lima persen, subsidi bantuan uang muka Rp4 juta, serta cicilan ringan hingga masa kredit berakhir," tambah dia.

Sebagai informasi, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Rabu, 20 Mei 2026, dan kembali meningkat menjadi 5,75 persen pada Kamis, 18 Juni 2026.

Meski suku bunga acuan bergerak naik, pemerintah memastikan penerima FLPP tetap memperoleh kepastian cicilan dengan bunga tetap.

Menurut Didyk, FLPP dirancang sebagai instrumen perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah agar tetap memiliki akses terhadap hunian layak dan terjangkau.

"Dengan arahan Presiden, Menteri PKP, serta dukungan Komite BP Tapera, bunga FLPP tetap lima persen dan tidak berubah hingga tenor kredit selesai. Ini memberi kepastian sekaligus perlindungan agar masyarakat tidak terdampak fluktuasi bunga pasar," jelas dia.
 

Baca juga: Realisasi FLPP Tembus 77 Ribu Unit, BP Tapera: Capai 22,15 Persen dari Target


(Ilustrasi. Foto: dok Kementerian PKP)


75% pendanaan FLPP dari BP Tapera


Didyk menjelaskan keberlanjutan FLPP ditopang skema pendanaan yang kuat. Saat ini, pembiayaan program berasal dari kombinasi dana pemerintah dan dukungan sektor keuangan.

Sebanyak 75 persen pendanaan FLPP berasal dari BP Tapera, sedangkan 25 persen sisanya didukung sektor pembiayaan melalui skema yang melibatkan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) dan perbankan.

"Dengan skema tersebut, program FLPP dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat," harap Didyk.

Minat masyarakat terhadap rumah subsidi tercatat terus meningkat. Sepanjang 2025, realisasi FLPP mencapai 278 ribu unit rumah, menjadi capaian tertinggi sejak program tersebut berjalan.

Sementara itu, hingga 24 Juni 2026, realisasi penyaluran FLPP telah mencapai 81.268 unit rumah yang dananya telah dicairkan. Selain itu, sebanyak 21.735 unit rumah telah memasuki tahap akad kredit.

"Capaian ini menunjukkan rumah subsidi masih menjadi pilihan masyarakat. Selain cicilannya terjangkau dan tidak terdampak kenaikan BI Rate, kualitas rumah subsidi kini juga semakin baik," tutup Didyk.

(Husen Miftahudin)