Ilustrasi fan sepak bola. Foto: Pexels
Piala Dunia Ajang Pertemuan Budaya Global dan Lokal
Muhamad Marup • 25 June 2026 18:26
Jakarta: Piala Dunia FIFA bukan sekadar turnamen olahraga terbesar di dunia. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pengamat sepak bola, Fajar Junaedi, menjelaskan bahwa Piala Dunia memperlihatkan hubungan kompleks antara globalisasi dan identitas lokal.
"Negara tuan rumah memanfaatkan Piala Dunia untuk memperkenalkan identitas nasional mereka," ujar Fajar, mengutip laman resmi UMY, Kamis, 25 Juni 2026.
Ia menjelaskan, Piala Dunia adalah bagian dari industri olahraga global. Ajang ini membuka ruang bagi budaya lokal tampil dan berinteraksi di panggung dunia.
Fajar mengungkapkan, proses tersebut menciptakan hibridisasi budaya. Terjadi percampuran antara unsur lokal dan global sehingga menghasilkan bentuk ekspresi budaya baru di tengah masyarakat.
"Masyarakat di berbagai negara juga mengadaptasi simbol-simbol Piala Dunia ke dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.
Ilustrasi Piala Dunia. Foto: Pexels
Dalam perspektif Fan Studies, Fajar menilai penggemar memiliki peran aktif. Mereka ikut menciptakan makna dan identitas selama Piala Dunia berlangsung.Penggemar tidak hanya menjadi penonton pasif dengan membentuk komunitas melalui berbagai aktivitas nyata. Contohnya seperti nonton bareng, mengenakan jersei, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga berdiskusi di media sosial.
"Pengalaman emosional yang dibangun bersama menciptakan rasa memiliki yang kuat. Ikatan ini sering kali melampaui batas usia, kelas sosial, bahkan lokasi geografis," katanya. Fajar menilai, semua emosi di dalam sepak bola dirasakan bersama. Kegembiraan saat merayakan gol maupun kekecewaan saat kalah menjadi pengalaman kolektif sehingga memperkuat identitas kelompok.
"Emosi bersama tersebut membuat sepak bola memiliki kekuatan sosial yang unik dan jarang dimiliki hiburan lain," tuturnya.