Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
IHSG Turun ke 6.127, Saham Konglomerasi Sempat Topang Penguatan
Ade Hapsari Lestarini • 29 May 2026 16:25
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini masih berada di zona merah. Padahal sejak perdagangan pagi IHSG sempat melesat hingga 44 poin.
Berdasarkan data RTI, Jumat, 29 Mei 2026, IHSG sore turun 2,808 poin atau setara 0,05 persen ke posisi 6.127. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 6.112. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 6.111 dan tertinggi di posisi 6.230.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 46,594 miliar senilai Rp48,937 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10,752 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.376.950 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 271 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 409 saham melemah, dan 137 saham lainnya stagnan.

Ilustrasi. Foto: dok MI.
Saham konglomerasi topang IHSG
Pengamat pasar modal Reydi Octa menjelaskan saham-saham konglomerasi dan sektor komoditas telah menopang penguatan IHSG pada perdagangan hari ini. IHSG tercatat menguat 79,59 poin atau 1,30 persen ke posisi 6.209,78 pada perdagangan sesi II Jumat pukul 14.15 WIB.
"Penopang utama masih berasal dari sektor komoditas dan saham konglomerasi yang memiliki bobot cukup besar dalam IHSG. Saham tersebut memberikan kontribusi positif terhadap penguatan indeks hari ini," ujar Reydi, dilansir Antara.
Reydi menjelaskan, penguatan IHSG lebih didorong oleh kombinasi faktor teknikal dan membaiknya sentimen global pasca berkurangnya kekhawatiran investor terhadap isu eksternal.
"Dari domestik, pasar juga memanfaatkan momentum valuasi saham-saham big caps yang sudah cukup menarik setelah sebelumnya mengalami tekanan jual cukup dalam," ujar Reydi.
Di sisi lain, Ia melihat investor asing masih cenderung berhati-hati dan bersikap selektif, yaitu investor asing masih mencermati stabilitas rupiah, arah suku bunga, serta perkembangan kebijakan dan reformasi pasar modal Indonesia.
"Karena itu, arus dana asing belum sepenuhnya kembali agresif," ujar Reydi.
Adapun dalam jangka pendek, Reydi memproyeksikan IHSG berpeluang melanjutkan rebound (berbalik menguat) apabila sentimen global tetap kondusif dan tekanan jual asing berkurang.
"Namun penguatan masih berpotensi masih terbatas karena pasar masih dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian eksternal," ujar Reydi.