Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada periode evaluasi 16-31 Januari mencatat terjadinya peningkatan gempa vulkanik dangkal Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sebanyak 14 kejadian per hari. ANTARA/HO-
Gempa Vulkanik Dangkal di Gunung Awu Meningkat Jadi 14 Kejadian per Hari
Silvana Febiari • 12 February 2026 21:28
Manado: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adanya peningkatan aktivitas gempa vulkanik dangkal di Gunung Awu, Sulawesi Utara, dengan rata-rata 14 kejadian per hari. Data ini merupakan hasil evaluasi terbaru yang dilakukan selama periode 16 hingga 31 Januari 2026.
"Kondisi gempa vulkanik dangkal saat ini mengalami peningkatan dibanding periode sebelumnya di mana rata-rata kejadian meningkat dari 12 kejadian per hari menjadi 14 kejadian per hari," kata Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dikutip dari Antara, Kamis, 12 Februari 2026.
Pada periode evaluasi tersebut, kegempaan Gunung Awu didominasi oleh gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik jauh. Gempa vulkanik dangkal terekam sebanyak 226 kali dengan rata-rata 14 kejadian per hari, empat kali gempa vulkanik dalam, tiga kali gempa tektonik lokal, dan 405 kali gempa tektonik jauh.
Baca Juga :
Gempa vulkanik dangkal pada periode tersebut tidak mengalami perubahan, namun dengan jumlah rata-rata per hari masih di atas normal. Sementara rentetan gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal (spasmodic burst) tidak terekam.
Jumlah gempa vulkanik dangkal yang masih di atas normal menunjukkan bahwa proses magmatik dan akumulasi tekanan terus berlangsung di kedalaman dangkal. Hal ini menyebabkan terjadinya retakan atau pelepasan tekanan pada batuan dekat permukaan yang perlu diwaspadai.
Hasil pengamatan visual dan instrumental menunjukkan aktivitas magmatik di Gunung Awu masih berlangsung aktif. Meskipun kegempaan bersifat fluktuatif, jumlah gempa vulkanik dangkal yang masih di atas normal menunjukkan aktivitas magma tetap tinggi dan perlu diwaspadai.
Kejadian peningkatan kegempaan secara tiba-tiba (swarm gempa vulkanik) maupun peningkatan gempa 'low frequency' masih perlu diwaspadai di masa mendatang.

Ilustrasi erupsi gunung.Dokumentasi/ BPPTG
Laporan evaluasi menyebutkan potensi bahaya Gunung Awu, antara lain erupsi magmatik eksplosif yang dapat menghasilkan lontaran material pijar dan aliran piroklastik, serta erupsi magmatik efusif yang menghasilkan aliran lava. Selain itu, potensi erupsi freatik juga dapat terjadi, didominasi oleh uap, gas vulkanik, dan material dari erupsi sebelumnya.
Potensi pembongkaran kubah lava bisa terjadi jika tekanan dalam sistem magmatik meningkat signifikan. Hembusan gas vulkanik juga berbahaya bagi jika konsentrasi yang terhirup melebihi ambang batas aman.