Tertinggi dalam 12 Tahun, Produksi Minyak Libya 1,37 Juta Barel per Hari pada 2025

Ilustrasi aktivitas pertambangan minyak. (Freepik)

Tertinggi dalam 12 Tahun, Produksi Minyak Libya 1,37 Juta Barel per Hari pada 2025

Willy Haryono • 25 January 2026 19:01

Tripoli: Perdana Menteri Libya Abdulhamid Dbeibah mengatakan pada Sabtu kemarin bahwa produksi minyak negaranya mencapai level tertinggi dalam 12 tahun pada 2025, yakni sebesar 1,37 juta barel per hari.

Berbicara pada pembukaan Libya Energy and Economic Summit (LEES) 2026 di Tripoli, Dbeibah mengatakan sepanjang tahun lalu produksi dimulai di sejumlah ladang minyak di berbagai wilayah, termasuk Iravn, Mutahandush, Al-Khayr, Hamada 47, dan Sinawan.

Dikutip dari Antara, Minggu, 26 Januari 2026, Dbeibah juga menyebut Libya meluncurkan putaran perizinan eksplorasi minyak dan gas alam pertamanya dalam 17 tahun pada 2025, yang berhasil menarik minat kuat dari sejumlah perusahaan energi internasional. Ia mengatakan hasil tender tersebut dijadwalkan akan diumumkan pada pekan kedua Februari.

Merujuk pada sejumlah kesepakatan baru yang diharapkan tercapai dalam KTT tersebut, Dbeibah mengatakan perjanjian akan ditandatangani untuk mengembangkan dua ladang gas alam lepas pantai.

“Perjanjian antara Perusahaan Minyak Nasional Libya (NOC) dengan TotalEnergies dari Prancis serta ConocoPhillips yang berbasis di Amerika Serikat akan diperbarui. Kesepakatan tersebut berlaku selama 25 tahun dan mencakup investasi lebih dari 20 miliar dolar AS,” kata Dbeibah.

Ia menambahkan, KTT tersebut juga akan menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman dengan perusahaan energi Amerika Serikat Chevron yang mencakup eksplorasi, pengembangan lapangan, dan peluang produksi. Selain itu, Libya juga akan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Mesir di bidang eksplorasi, produksi, serta layanan logistik energi.

Sebagai anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Libya termasuk dalam 10 besar negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, yang diperkirakan mencapai 48,4 miliar barel. Sementara itu, cadangan gas alam terbukti Libya diperkirakan sekitar 1,5 triliun meter kubik.

Dengan tingkat paparan sinar matahari yang tinggi dan wilayah geografis yang luas, Libya juga dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Dalam beberapa tahun terakhir, stabilisasi produksi minyak dan gas, peningkatan infrastruktur energi, serta integrasi sumber energi terbarukan ke dalam bauran energi nasional menjadi prioritas utama pemerintah Libya.

Baca juga:  Harga Minyak Naik usai Peringatan Keras Trump kepada Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)