BPBD Sulsel: 1.613 Hektare Lahan Terbakar Sepanjang Januari-Agustus 2026

Ilustrasi suasana kejadian kebakaran hutan di wilayah Sulawesi Selatan yang diduga kuat akibat pemanasan global dan perubahan iklim. ANTARA/ HO-BPBD Sulsel

BPBD Sulsel: 1.613 Hektare Lahan Terbakar Sepanjang Januari-Agustus 2026

Lukman Diah Sari • 25 August 2026 22:48

Makassar: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat sebanyak 112 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda wilayah tersebut sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026.

"Dari rangkaian kejadian tersebut, total area yang terbakar mencapai 1.613,67 hektare yang terdiri atas 1.607,92 hektare hutan dan lahan, serta 5,75 hektare perkebunan masyarakat," jelas Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo, di Makassar, Selasa, 25 Agustus 2026, melansir Antara.

Amson mengungkapkan, ratusan insiden karhutla tersebut tersebar di 15 kabupaten/kota di Sulsel. Wilayah dengan luasan lahan terdampak paling parah meliputi:
  • Kabupaten Enrekang: 1.044,55 hektare dari 10 kejadian.

  • Kabupaten Barru: Sekitar 315 hektare dari 5 kejadian.

  • Kabupaten Tana Toraja: 125 hektare dari 11 kejadian.

  • Kabupaten Pinrang: 54,4 hektare hutan/lahan ditambah 3 hektare perkebunan dari 18 kejadian.

  • Kota Parepare: 20,06 hektare dari 25 kejadian.


Menurut Amson, intensitas kebakaran mengalami lonjakan signifikan seiring masuknya puncak musim kemarau, khususnya sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Cuaca panas terik yang dipadu tiupan angin kencang mempercepat laju perambatan api di sejumlah kawasan rawan.

Dampak karhutla ini tidak hanya merusak ekosistem lingkungan, tetapi juga memukul warga sipil. Di Kota Palopo, misalnya, tercatat 10 kejadian karhutla yang menghanguskan 1,25 hektare kebun dan 3,5 hektare hutan. Dampak dari kejadian ini menyebabkan 12 keluarga terdampak langsung dan 4 warga menjadi korban.

Ilustrasi. Personel BPBD kabupaten Tapin saat melakukan pemadaman kebakaran lahan pada malam hari di Rantau, Kabupaten Tapin, Minggu, 23 Agustus 2026. ANTARA/Muhammad Rastaferian Pasya


Selain itu, amukan si jago merah juga merusak sebanyak 39 unit usaha dan fasilitas umum. Rinciannya, 37 unit berada di Kabupaten Barru dan 2 unit lainnya di Kabupaten Luwu Utara.

Menyikapi situasi darurat ini, BPBD Sulsel mengimbau masyarakat untuk menghentikan praktik pembakaran terbuka, baik saat membuka lahan pertanian maupun saat membakar sampah, mengingat vegetasi yang kering sangat rentan memicu kebakaran besar.

Amson menegaskan pentingnya kolaborasi dan kewaspadaan kolektif dalam menekan munculnya titik api baru. Terlebih lagi, potensi cuaca kering diprediksi masih akan berlangsung dan mengancam sejumlah wilayah di Sulsel.

"Pelaku pembakaran lahan secara sengaja dapat dijerat dengan proses hukum sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku," pesan dia.

(Lukman Diah Sari)