Bencana alam di Sumatera Utara ANTARA/HO-Pusdalops Sumut
Banjir Garoga Dikaji, Hujan Ekstrem Jadi Perhatian Utama
Deny Irwanto • 18 August 2026 19:19
Tapanuli Selatan: Banjir bandang yang melanda Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, beberapa waktu lalu menjadi perhatian peneliti Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia (UI). Melalui analisis pemodelan hidrologi dan hidrodinamik, tim peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Hujan ekstrem akibat fenomena Siklon Senyar menjadi salah satu faktor utama yang memicu rangkaian longsor di wilayah hulu hingga berdampak pada aliran sungai.
"Hasil temuan karena Siklon Senyar mengakibatkan banjir bandang," kata peneliti I-SER UI, Eko Kusratmoko, dalam keterangan pers dikutip, Selasa, 18 Agustus 2026.
Kondisi hujan ekstrem kemudian berkaitan dengan munculnya longsoran di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga. Berdasarkan pemetaan citra satelit, peneliti menemukan sedikitnya 1.572 titik longsor.
"Dari 1.572 titik , 81 persen ada di wilayah lahan hutan dengan lereng curam sampai sangat curam. Hujan yang ekstrem ini menimbulkan longsoran hebat di hulu dan kemudian aliran debris lumpur akan menutup di saluran, jebol dan terjadilah banjir bandang," jelas Eko.
Material longsoran yang terbawa aliran air kemudian berpotensi menyumbat saluran sungai. Ketika aliran tidak mampu menampung material tersebut, terjadi pelepasan material dan air yang berkontribusi terhadap banjir bandang di wilayah hilir.
Selain faktor cuaca dan kondisi lereng, kajian I-SER UI turut melihat perubahan tutupan lahan di DAS Garoga. Peneliti mencatat adanya perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan dalam rentang 1990 hingga 2026.
Bencana alam di Sumatera Utara ANTARA/HO-Pusdalops Sumut
Namun berdasarkan analisis, luasan perubahan berada di kisaran 10 persen dari total DAS Garoga yang mencapai sekitar 445 kilometer persegi. Lokasi perubahan tutupan lahan juga dinilai tidak berada pada bagian yang berkontribusi langsung terhadap banjir.
"Sebagian besar perubahan lahan memang sebagian besar di bagian bawah, jadi sebenarnya tidak ada efeknya dengan banjir," ungkap Eko.
Kajian tersebut juga menyinggung aktivitas pertambangan di kawasan Aek Pahu yang sebelumnya menjadi perhatian publik. Berdasarkan analisis aliran, wilayah tersebut disebut berada di luar sistem aliran utama yang terdampak banjir Garoga.
"Aliran air dari Aek Pahu itu dari wilayah pertambangan mengalir juga ke bagian hilir Sungai Garoga, sudah mendekati laut titiknya. Jadi tidak mengalir di tengah yang banjir ini, di luar sistem," beber Eko.
Penataan Ruang untuk Mitigasi
Selain melihat faktor penyebab bencana, peneliti juga mendorong langkah mitigasi untuk mengurangi risiko kejadian serupa. Salah satu langkah yang disarankan ialah pembenahan tata ruang dengan mempertimbangkan zona yang lebih aman untuk permukiman serta penentuan lokasi evakuasi.
Menurut peneliti, penataan perlu dilakukan melalui pembahasan bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat agar sesuai dengan kondisi wilayah sekaligus kebutuhan warga. "Kami beri batas aman mana yang boleh ditinggali, mana yang bisa jadi tempat evakuasi. Tata ruang perlu kesepakatan Pemda dengan masyarakat," ujar Eko.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mitigasi jangka panjang, terutama dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di wilayah yang memiliki kondisi topografi rawan longsor.