Paus Leo Ajak Warga Uruguay dan Argentina Jembatani Perbedaan Politik

Paus Leo XIV. (Anadolu Agency)

Paus Leo Ajak Warga Uruguay dan Argentina Jembatani Perbedaan Politik

Willy Haryono • 8 November 2026 19:02

Montevideo: Paus Leo XIV menyerukan warga Uruguay dan Argentina untuk menjembatani perbedaan di tengah perpecahan politik yang tajam.

Seruan itu disampaikan saat ia mengunjungi kawasan perbatasan kedua negara pada Sabtu kemarin, yang disambut sekitar 40.000 orang.

Dalam rangkaian lawatan 12 hari ke tiga negara hingga 17 November, Paus Leo menempuh perjalanan sekitar 750 kilometer dari Montevideo menuju Paysandú, pusat ekonomi di tepi sungai di barat laut Uruguay.

Mengutip Internazionale, Minggu, 8 November 2026, ribuan warga berkumpul menyambut kedatangannya di tengah hujan deras yang mereda sesaat sebelum ia tiba.

Paus Leo menjadi paus pertama yang mengunjungi kota di tepi Sungai Uruguay tersebut. Vatikan memilih Paysandú sebagai lokasi misa pertamanya di Amerika Selatan karena kota itu dapat dijangkau para peziarah dari berbagai wilayah.

Warga yang memadati taman luas di bagian selatan kota bersorak dan membunyikan klakson ketika Leo melintas menggunakan mobil paus beratap terbuka di tengah angin kencang.

Dalam khotbahnya, Paus Leo mengambil inspirasi dari Jembatan Internasional General Artigas yang menghubungkan Uruguay dan Argentina.

“Tidak sulit membayangkan manfaat sebuah jembatan: keterbukaan, komunikasi, dan pertukaran. Karena itu, menjadi pembangun jembatan sangatlah penting,” ujarnya.

“Inilah panggilan bagi kita semua: membangun jembatan, memperkuat ikatan, menyatukan, dan berkomunikasi.”

Setelah kembali ke Montevideo, Paus Leo menghadiri doa malam di Stadion Centenario. Stadion yang lebih dikenal sebagai arena olahraga itu dipadati sekitar 100.000 orang, menurut perkiraan Vatikan. Mereka meneriakkan, “Paus Leo, kami sangat mencintaimu.”

Mathias Franco, 18, yang hadir bersama dua temannya, mengatakan jumlah warga yang datang terasa mengejutkan bagi negara dengan tradisi sekuler yang kuat. Survei lembaga Cifra menunjukkan hanya sepertiga orang dewasa di Uruguay mengidentifikasi diri sebagai pemeluk Katolik. Angka tersebut tergolong rendah di Amerika Latin. Sementara itu, 28 persen responden percaya kepada Tuhan, tetapi tidak merasa terikat dengan agama tertentu.

“Kami selalu diberi tahu bahwa Uruguay adalah negara paling sekuler di Amerika Latin, tetapi acara seperti ini menunjukkan hal yang berbeda,” ujar Franco. Ia menilai kunjungan tersebut menjadi kesempatan besar bagi warga Uruguay untuk tumbuh sebagai komunitas.

Di dalam stadion, para peziarah disambut musik rakyat. Suasananya terasa lebih menyerupai konser daripada doa malam.

Paus Leo Serukan Kerja Sama Kawasan

Paus berusia 71 tahun itu menjalani salah satu lawatan luar negeri terberat bagi pemimpin Gereja Katolik dalam beberapa dekade.

Leo, paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, mengunjungi Uruguay hingga Minggu ini sebagai persinggahan pertama dalam lawatan yang juga mencakup Argentina dan Peru. Vatikan menyebut kunjungan ini sebagai “kepulangan” bagi Leo, yang pernah puluhan tahun menjadi misionaris di Peru dan kemudian menjadi warga negara Peru.

Dalam beberapa bulan terakhir, Leo lantang mengkritik arah kepemimpinan dunia. Ia diperkirakan akan menyoroti sejumlah persoalan di kawasan tersebut, termasuk kerusakan lingkungan, perdagangan senjata, dan ketidakstabilan politik.

Pada Sabtu sore, Leo mengunjungi Casavalle, kawasan di pinggiran utara Montevideo yang diliputi kekerasan dan kejahatan terkait narkoba.

Ia berjalan di antara rumah-rumah sederhana beratap seng dan proyek bangunan yang belum selesai, lalu mendengarkan cerita warga. Salah satunya adalah seorang ibu yang menangis saat menceritakan pengalamannya membesarkan anak ketika hidup tanpa rumah.

Leo memeluk perempuan tersebut. Dalam pesannya, ia mengajak warga Uruguay mengatasi sikap apatis terhadap kemiskinan dan kesenjangan serta membantu mereka yang membutuhkan.

“Kita tidak bisa mengabaikan banyak orang di sekitar kita yang sedang menderita,” ucapnya.

Pablo Coimbra, pendeta gereja di dekat lokasi kunjungan, mengatakan dirinya berharap kedatangan Leo dapat membangkitkan semangat warga yang kerap merasa terabaikan.

“Ini kawasan yang dilupakan pemerintah dan berbagai lembaga,” kata Coimbra. Casavalle masuk zona “merah” kepolisian. Warga setempat kerap mendengar suara tembakan di tengah perebutan wilayah antarpengedar narkoba.

Paus Leo dijadwalkan mengakhiri kunjungannya di Uruguay pada Minggu pagi sebelum bertolak ke Argentina pada sore harinya. Di sana, ia akan berpidato di hadapan Presiden Javier Milei, tokoh libertarian yang dipandang sebagai sekutu dekat Presiden AS Donald Trump.

Trump sebelumnya melontarkan kritik kepada Leo setelah sang paus mengecam perang Iran. (Razaqa Hariz)

Baca juga: Paus Leo XIV Memulai Tur Amerika Latin, Uruguay Jadi Persinggahan Pertama

(Willy Haryono)