Keseruan peserta dan pembicara berfoto bersama dalam kegiatan luring Puan Bisa Festival 2026 bertema Brave to Step Back: RISE di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026. (Foto: Ist)
Gak Harus Lari, Kok: Puan Bisa Festival 2026 Soroti Pentingnya Jeda bagi Perempuan Muda
Patrick Pinaria • 16 October 2026 17:31
Jakarta: Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Di tengah tuntutan tersebut, mengambil jeda untuk mengenali kebutuhan diri dan menentukan arah hidup menjadi salah satu hal yang penting dalam proses pertumbuhan personal.
Laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Kondisi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi perempuan dalam menjalani kehidupan profesional. Sementara itu, menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, juga dapat menjadi tantangan tersendiri.
Menjawab tantangan tersebut, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT).
Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, festival ini menghadirkan rangkaian kegiatan bertema well-being untuk membantu perempuan muda memahami kebutuhan dan arah hidupnya. Dua sesi utama yang dihadirkan adalah talkshow “Not All Growth Looks the Same: Understanding Your Version of Enough” bersama Gina Sinaga, Adult Clinical Psychologist di Indopsycare sekaligus Director of Research and Development, serta workshop “Slow Down to Level Up: Aligning Your Path with RISE” bersama Resti Nur Hilmawati, Clinical Psychologist dan Associate Psychologist di Yayasan Putih.
Dalam sesi talkshow “Not All Growth Looks the Same: Understanding Your Version of Enough”, Gina Sinaga membagikan pengalamannya menghadapi berbagai tantangan personal dan profesional sebagai perempuan. Sesi yang dimoderatori oleh Asa, Executive Director IndoRelawan, tersebut mengajak peserta mengenali kapasitas diri sebelum mengambil keputusan, salah satunya melalui analisis SWOT dan pemahaman terhadap beragam bentuk kecerdasan atau multiple intelligences.
Gina menekankan bahwa setiap individu memiliki keunggulan yang berbeda. Karena itu, perempuan tidak perlu memaksakan diri mengikuti standar orang lain. Perempuan juga perlu membangun prinsip dan integritas untuk menghadapi stigma sosial, sekaligus terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
Dalam memaknai arti “cukup”, Gina mengajak peserta melakukan refleksi diri secara berkala dengan melihat perjalanan hidup dari perspektif masa lalu dan masa depan. Ia berpesan, “Setiap tahun, usahakan selalu ada momen refleksi sama diri sendiri.”
Melalui refleksi tersebut, perempuan diharapkan dapat lebih menghargai pencapaian dan proses yang telah dilalui tanpa terus-menerus merasa kurang.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi “Jeda yang Berdaya” bersama Resti Nur Hilmawati sebelum memasuki workshop utama. Dalam sesi yang dimoderatori oleh Anisa, Chief Financial Officer, Resti menjelaskan bagaimana hustle culture dapat membuat seseorang terus bergerak tanpa memahami tujuan dan makna aktivitas yang dijalani. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan berpikir jernih atau mengalami brain fog.
Sebagai alternatif, Resti memperkenalkan konsep intentional pause, yaitu mengambil jeda secara sadar untuk mengevaluasi situasi sebelum menentukan respons atau keputusan. Ia mengajak peserta memperlambat langkah, meninjau kembali tujuan, serta membedakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan logis dan reaksi emosional.
“Untuk mengatasi brain fog, kita harus recharge and check maps,” jelas Resti, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Pendekatan tersebut kemudian diterapkan melalui framework RISE, yang terdiri atas Reflect Your Pace, Inclusive Self-Understanding, Strategize Intentionally, dan Evolve Sustainably. Melalui empat pilar ini, peserta diajak mengenali kondisi diri, memahami nilai personal, menyusun strategi pengambilan keputusan, dan membangun kebiasaan yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Peserta mempraktikkan pendekatan RISE melalui pengisian worksheet yang disediakan panitia. Empat peserta berkesempatan memaparkan hasil refleksi mereka, yang menunjukkan beragam perspektif meskipun menggunakan panduan yang sama.
Salah satu peserta, Ara, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut membantunya mengenali kebiasaan menunda pekerjaan ketika suasana hatinya menurun. Melalui pilar Evolve Sustainably, ia memperoleh perspektif baru untuk mengelola pekerjaan dengan lebih terarah.
Sementara itu, Caesi membagikan pengalamannya menerapkan micro-habits, seperti menetapkan tenggat waktu pribadi, untuk membantu mengelola rasa takut dan hambatan emosional secara lebih konsisten.
Menanggapi hasil refleksi peserta, Resti menegaskan bahwa setiap individu memiliki latar belakang, kebutuhan, dan proses pertumbuhan yang berbeda. Ia menutup sesi workshop dengan pesan, “Slowing down doesn't mean you're falling behind.”
Baginya, mengambil jeda bukan berarti tertinggal, melainkan kesempatan untuk memahami kebutuhan diri sebelum kembali melangkah.
Melalui Puan Bisa Festival 2026, perempuan muda diajak memaknai pertumbuhan bukan sekadar tentang seberapa jauh mereka melangkah, tetapi juga seberapa sadar mereka menentukan arah.
Project Manager Puan Bisa Festival 2026 sekaligus Chief of People Officer Puan Bisa, Dini Aulia berharap setiap perempuan dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai, prinsip, dan integritas yang diyakininya, bukan semata-mata karena tuntutan atau ekspektasi sosial.
“Berani mengambil jeda bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru, dengan memahami diri dan apa yang benar-benar kita butuhkan, kita dapat melangkah kembali dengan lebih sadar dan selaras dengan nilai yang kita pegang,” menjadi pesan yang merangkum semangat dari tema Puan Bisa Festival 2026 yaitu “Brave to Step Back: RISE”.