Mulai 2027, Pemerintah Siap Renovasi dan Bangun Ribuan Puskesmas

Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus. Foto: Metrotvnews.com/Kautsar Widya Prabowo.

Mulai 2027, Pemerintah Siap Renovasi dan Bangun Ribuan Puskesmas

M. Iqbal Al Machmudi • 8 October 2026 10:27

Jakarta: Pemerintah berencana merombak puskesmas selama tiga tahun, mulai 2027 hingga 2029. Anggaran yang disediakan untuk rencana tersebut mencapai ratusan triliun rupiah.

Rencana besar tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benyamin Paulus Octavianus, saat meresmikan UPTD Puskesmas III Denpasar Barat, Bali, Selasa, 6 Oktober 2026. Menurut dia, pembangunan puskesmas baru tersebut difokuskan untuk memecah beban pelayanan di wilayah berkepadatan tinggi.

Menurut Benny, pembangunan puskesmas baru tersebut difokuskan untuk memecah beban pelayanan di wilayah berkepadatan tinggi. Benny menekankan UPTD Puskesmas III Denpasar Barat yang berkonsep Ramah Ibu dan Anak menjadi salah satu model percontohan nasional dalam menekan angka kematian ibu dan bayi.

"Selain pelayanan umum, puskesmas ini memiliki pelayanan khusus ibu dan anak yang sangat vital dalam mencegah risiko kematian ibu dan anak. Ke depan, fokus belanja kesehatan harus bergeser dari pengobatan di rumah sakit menuju pencegahan di fasilitas primer," kata Benny dikutip dari Media Indonesia, Kamis, 8 Oktober 2026.

Benny menjelaskan langkah strategis berbasis pencegahan (preventif) ini mencakup renovasi 8.001 puskesmas, pembangunan 1.988 puskesmas baru, serta pembenahan 441 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di seluruh Indonesia.

Sebagai bagian dari program pembenahan nasional, mulai 2027 Kemenkes memprioritaskan pembenahan infrastruktur terparah, termasuk penambahan unit X-ray mobile di seluruh puskesmas. 

Khusus di Bali, 119 puskesmas akan direnovasi, 4 puskesmas rusak berat dibangun ulang, dan 7 puskesmas yang melayani lebih dari 60 ribu jiwa akan dipecah.


Puskesmas Matraman, Jakarta. Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta.

Selain pembangunan puskesmas, Benny menggarisbawahi pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) kesehatan untuk mengimbangi modernisasi fasilitas medis. Menurut dia, kedua aspek tersebut harus berjalan beriringan.

"Membeli alat kesehatan bisa cepat, tetapi mencetak tenaga medis seperti radiografer dan dokter spesialis membutuhkan proses. Pengadaan alat dan penyiapan SDM harus berjalan seiring sejalan agar pelayanan prima terwujud," ujar Benny.

(Anggi Tondi)