Kemkomdigi Pastikan Kesiapan Layanan Telekomunikasi di Sirkuit Mandalika

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengecek penyiapan layanan telekomunikasi menjelang MotoGP 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, NTB. Foto: Antara.

Kemkomdigi Pastikan Kesiapan Layanan Telekomunikasi di Sirkuit Mandalika

Gabriella Thesa Widiari • 9 October 2026 00:42

Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memastikan kesiapan infrastruktur telekomunikasi untuk mendukung penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia MotoGP 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penguatan jaringan seluler hingga pengawasan spektrum frekuensi disiapkannya secara optimal untuk melayani sekitar 200 ribu penonton.

"Kami ingin memastikan seluruh sistem tersebut siap mendukung kelancaran balapan," kata Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dilansir dari Antara, Kamis, 8 Oktober 2026.

Langkah penguatan dilakukan melalui penyediaan empat base transceiver station (BTS) bergerak dan pengamanan lebih dari 250 frekuensi radio. Pengelolaan frekuensi ini krusial untuk mendukung komunikasi tim balap, pengamanan, hingga penyiaran balapan ke berbagai negara.

Meutya menjelaskan bahwa pengelolaan pemanfaatan frekuensi radio pada ajang skala internasional sangat kompleks dan butuh koordinasi presisi. Pengawasan dilakukan agar berbagai sistem komunikasi dapat beroperasi bersamaan tanpa memicu gangguan.


Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengecek penyiapan layanan telekomunikasi menjelang MotoGP 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, NTB. Foto: Antara. 

Pengendali Frekuensi Radio Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Mataram Herlin Kurnia Wulandari mengonfirmasi kesiapan penanganan dan pengawasan frekuensi di lapangan. Kemkomdigi juga berkoordinasi langsung dengan pihak MGPA, ITDC, dan manajemen MotoGP untuk mengantisipasi potensi masalah.

"Ajang internasional seperti MotoGP membutuhkan dukungan komunikasi yang andal. Mulai dari keselamatan pembalap, koordinasi penyelenggara, hingga penyiaran ke berbagai negara, semuanya bergantung pada pengelolaan frekuensi yang baik," ujar Meutya.

(Gabriella Thesa Widiari)