Darya Shipilova, seorang karyawan berusia 28 tahun diduga meninggal akibat wabah pes di rusia. Foto: Sosial Media/Guardian
Di Balik Laporan Kematian Seorang Peneliti Institut Antipes Rusia
Muhammad Reyhansyah • 6 October 2026 10:54
Moskow: Seorang peneliti di institut antipes Rusia di wilayah Irkutsk, Siberia timur, meninggal setelah mengalami pneumonia parah yang diduga merupakan kasus pes.
Situasi tersebut masih dalam penyelidikan. 189 orang juga menjalani pemantauan medis di Irkutsk karena diduga terpapar penyakit yang berpotensi mematikan tersebut.
Menurut laporan CNBC, Senin, 5 Oktober 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, mengetahui laporan mengenai seorang pekerja laboratorium di wilayah Irkutsk yang meninggal akibat pneumonia parah.
WHO mengatakan, telah menawarkan bantuan kepada Rusia, tetapi penyebab kematian korban belum dikonfirmasi secara resmi dan pemeriksaan laboratorium masih berlangsung.
“Seluruh kontak pasien dilaporkan telah diidentifikasi dan sedang dipantau terhadap kemungkinan penyakit, dan hingga saat ini tidak ada yang menunjukkan gejala,” kata WHO, dikutip dari laporan CNBC.
Penyebab Kematian Belum Pasti
Badan pengawas kesehatan masyarakat Rusia, Rospotrebnadzor mengatakan, pekerja institut penelitian antipes di Irkutsk tersebut sebelumnya didiagnosis mengalami “pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui”.Darya Shipilova, seorang karyawan berusia 28 tahun itu jatuh sakit saat bekerja. Ia meninggal dua hari kemudian, pada malam 2 Oktober, di sebuah rumah sakit daerah di kota terdekat, Shelekhov.
Penyebab ia jatuh sakit masih belum jelas. Laporan yang belum terverifikasi di media Rusia mengisyaratkan bahwa Shipilova mungkin terinfeksi setelah terjadi insiden di laboratorium tersebut. Pihak berwenang belum mengonfirmasi informasi tersebut secara terbuka.
Media lokal melaporkan bahwa institut tersebut kemudian ditutup (di-lockdown), dan para staf terpaksa tidur di lantai serta di atas kursi. "Mereka telah mengisolasi semua orang sejak Jumat, lebih dari 60 orang," ujar seorang kerabat bernama Roman kepada portal berita Siberia Realities.
Menurut badan tersebut, situasi di Kota Irkutsk dan Shelekhov berada dalam kondisi stabil dan sejumlah langkah telah diterapkan sebagai respons terhadap kasus tersebut.
Menurut pernyataan Kepala Republik Buryatia, Alexei Tsydenov, mengatakan korban tewas akibat bentuk pes yang tidak disebutkan. Korban sendiri diketahui sempat mendatangi wilayah Buryatia, yang terletak di dekat Irkutsk, dalam beberapa hari terakhir.
Namun, Tsydenov membantah bahwa korban sempat bepergian ke Buryatia.
Laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Kementerian Kesehatan Rusia juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Profesor Brendan Wren dari London School of Hygiene & Tropical Medicine mengatakan terdapat sekitar 2.000 kasus pes setiap tahun dan penyakit tersebut dapat diobati dengan antibiotik standar.
Namun, ia memperingatkan munculnya strain yang resisten terhadap banyak antibiotik dapat membatasi pilihan pengobatan apabila laboratorium tersebut menangani strain semacam itu.
Menurut Wren, pekerja laboratorium dapat saja menangani sampel Yersinia pestis untuk mengembangkan vaksin yang lebih baik bagi wilayah-wilayah tempat pes masih endemik.
Rospotrebnadzor mengatakan tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas profesional korban. Badan tersebut belum memberikan keterangan lebih lanjut.
WHO mengatakan berdasarkan informasi tidak resmi yang tersedia, risiko kesehatan bagi masyarakat umum saat ini tampak rendah. Penilaian tersebut akan diperbarui setelah informasi tambahan tersedia.
Dugaan Pes Pneumonik
Pes merupakan infeksi bakteri langka tetapi berpotensi fatal yang disebabkan Yersinia pestis. Bakteri tersebut umumnya ditemukan pada mamalia kecil dan kutunya.Bentuk pes yang paling dikenal adalah pes bubonik, yang berkaitan dengan wabah Black Death pada abad ke-14. Tanpa pengobatan, bakteri dapat keluar dari sistem limfatik dan masuk ke aliran darah atau paru-paru sehingga menyebabkan pes septikemik atau pes pneumonik.
Kasus terbaru di Rusia diduga merupakan pes pneumonik, yakni ketika bakteri menginfeksi paru-paru. Kondisi tersebut dapat berkembang dari bentuk pes lainnya atau terjadi setelah seseorang menghirup partikel yang mengandung bakteri.
Berbeda dengan pes bubonik yang menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit pada kelenjar getah bening serta umumnya tidak menular antarmanusia, pes pneumonik dapat menular melalui saluran pernapasan.
Wren mengatakan kasus yang diperoleh dari laboratorium tersebut berpotensi menular melalui jalur pernapasan.
“Yersinia pestis cukup mudah menular, tetapi tidak semudah SARS-CoV-2 atau COVID-19,” kata Wren.
Bakteri tersebut memiliki reservoir alami pada hewan, terutama hewan pengerat. Menurut WHO, pes pada hewan terdapat di seluruh benua kecuali Oseania, meskipun keberadaan reservoir tersebut tidak berarti kasus pada manusia terjadi di setiap wilayah.