Lebih dari 200 Anggota Houthi Tewas dan Terluka dalam Pertempuran di Taiz

Pertempuran masih terjadi antara pasukan Pemerintah Yaman dan Pemberontak Houthi. Foto: Anadolu

Lebih dari 200 Anggota Houthi Tewas dan Terluka dalam Pertempuran di Taiz

Fajar Nugraha • 15 October 2026 07:58

Taiz: Tentara Yaman pada Rabu 14 Oktober 2026 menyatakan bahwa lebih dari 200 Pemberontak Houthi tewas atau terluka dalam bentrokan di provinsi barat daya, Taiz.

“Pertempuran sengit terus berlangsung sepanjang  Rabu di front Dhubab, sebelah barat Taiz, serta di front Al-Aqrud dan Al-Shaqab di sebelah selatan,” ujar Komando Militer Taiz (Taiz Military Axis) dalam sebuah pernyataan melalui X, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis 15 Oktober 2026.

Disebutkan bahwa bentrokan, yang dimulai pada pagi hari, semakin intensif pada siang hari.

Pernyataan tersebut mengungkapkan bahwa pesawat tempur menyasar konvoi tank dan kendaraan militer milik kelompok Houthi di kawasan Ras al-Najd, distrik Al-Misrakh.

Pesawat tempur juga melancarkan dua serangan udara pada Rabu pagi terhadap posisi-posisi Houthi di dekat Bukit Sofitel, sebelah timur kota Taiz.

Dua serangan udara lainnya menyasar satu tank dan satu kendaraan militer di front Dhubab, sebelah barat kota tersebut, pada Rabu malam.

Pihak tentara menyatakan bahwa kerugian yang dialami Houthi sepanjang hari itu mencakup lebih dari 200 petempur yang tewas atau terluka, satu kendaraan militer hancur, dua tank rusak, satu pesawat nirawak ditembak jatuh, serta satu konvoi bersenjata hancur.

Angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan belum ada tanggapan dari pihak Houthi.

Pertempuran ini terjadi di tengah operasi militer “Dawn of Yemen” yang diluncurkan oleh pemerintah Yaman yang diakui secara internasional awal bulan ini, dengan tujuan merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk ibu kota negara, Sanaa.

Serangan tersebut, yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi, telah meningkatkan intensitas pertempuran di beberapa front, khususnya di Taiz, tempat pasukan pemerintah dan kelompok Houthi saling bertempur untuk menguasai posisi-posisi strategis serta jalur pasokan.

Yaman telah dilanda konflik sejak kelompok Houthi merebut Sanaa pada 2014, yang memaksa pemerintah yang diakui secara internasional untuk meninggalkan ibu kota. Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian melakukan intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah tersebut.

(Fajar Nugraha)