Argentina Selidiki Kaitan dengan Wabah Hantavirus Mematikan di Kapal Pesiar

Kapal pesiar MV Hondius yang terkena wabah Hantarivus di Samudra Atlantik. Foto: Cruise Mapper

Argentina Selidiki Kaitan dengan Wabah Hantavirus Mematikan di Kapal Pesiar

Muhammad Reyhansyah • 7 May 2026 09:09

Buenos Aires: Otoritas kesehatan Argentina tengah menyelidiki kemungkinan negara itu menjadi sumber wabah hantavirus mematikan yang telah menewaskan sejumlah orang di sebuah kapal pesiar di Samudra Atlantik.

Kementerian Kesehatan Argentina pada Rabu, 6 Mei 2026 mengatakan pihaknya akan mengirim para ahli ke wilayah selatan Ushuaia untuk menangkap dan menguji hewan pengerat yang biasanya menjadi penyebar penyakit tersebut, terutama di area yang terkait dengan perjalanan pasangan asal Belanda yang meninggal akibat virus itu.

Sejauh ini, tiga orang dilaporkan meninggal akibat wabah tersebut, yakni pasangan Belanda dan seorang warga negara Jerman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut total delapan orang diduga terinfeksi virus tersebut.

"Hingga 6 Mei, terdapat delapan kasus, tiga di antaranya telah dikonfirmasi sebagai hantavirus melalui pengujian laboratorium," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam unggahan media sosial, dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 7 Mei 2026.

"WHO akan terus bekerja sama dengan negara-negara untuk memastikan pasien, kontak erat, penumpang, dan awak kapal memperoleh informasi serta dukungan yang mereka perlukan agar tetap aman dan mencegah penyebaran," lanjutnya.

Kapal pesiar yang tertahan di lepas pantai Cape Verde sejak Minggu itu berangkat menuju Spanyol pada Rabu setelah tiga orang dievakuasi, dua di antaranya dalam kondisi sakit serius. Tedros mengatakan mereka akan dibawa ke Belanda.

Otoritas kesehatan menyebut risiko bagi masyarakat luas masih rendah dan menegaskan penyebaran virus berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan penyakit seperti COVID-19.

"Ketika kami mengatakan kontak dekat untuk penularan antarmanusia, yang kami maksud adalah kontak fisik yang sangat dekat, seperti berbagi ruang tidur atau kabin, atau memberikan perawatan medis. Itu sangat berbeda dengan COVID dan sangat berbeda dengan influenza," kata Direktur Penanganan Epidemi dan Pandemi WHO Maria Van Kerkhove.

Virus hantavirus yang ditemukan di Amerika Selatan, dikenal sebagai virus Andes, dapat menyebabkan penyakit paru-paru serius dan sering kali mematikan yang disebut sindrom paru hantavirus.

Otoritas Argentina mengatakan mereka akan mengirim RNA virus Andes serta panduan diagnosis dan pengobatan ke laboratorium di Spanyol, Senegal, Afrika Selatan, Belanda, dan Inggris.

Perubahan Iklim Disebut Perluas Penyebaran Virus

Kondisi cuaca yang semakin hangat disebut berkaitan dengan peningkatan kasus virus, kemungkinan karena perubahan iklim memperluas wilayah hidup hewan pengerat pembawa penyakit tersebut.

Kementerian Kesehatan Argentina pada Selasa melaporkan pihaknya mencatat 101 infeksi hantavirus sejak Juni 2025, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Argentina menjadi lebih tropis akibat perubahan iklim, dan hal itu membawa gangguan seperti demam berdarah dan demam kuning, tetapi juga tanaman tropis baru yang menghasilkan benih untuk memperbanyak populasi tikus," kata pakar penyakit menular Argentina Hugo Pizzi kepada Associated Press.

"Tidak diragukan lagi bahwa seiring waktu hantavirus menyebar semakin luas," lanjut Pizzi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)