Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. ANTARA/HO-KemenPPPA.
MenPPPA Tegaskan Peran Strategis Media Putus Rantai Kekerasan Anak
Fachri Audhia Hafiez • 27 May 2026 00:40
Jakarta: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi menekankan pentingnya peran strategis media massa dalam upaya memutus rantai kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Media dinilai memegang kendali besar sebagai pilar edukasi sekaligus jembatan pelindung bagi para korban.
"Media harus menjadi bagian dari solusi untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak, selain menjadi penyampai informasi kepada masyarakat. Selain itu, media juga perlu menjadi ruang aman yang mendorong korban berani bersuara sekaligus memudahkan akses masyarakat terhadap layanan perlindungan yang tersedia," kata Arifah di Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 26 Mei 2026.
Baca Juga :
Arifah menilai media massa memiliki kekuatan besar tidak hanya dalam menyebarkan informasi, melainkan juga dalam membentuk budaya sosial baru.
Konten yang diproduksi media diyakini mampu memengaruhi cara pandang publik secara masif, sekaligus mengonstruksi kesadaran kolektif untuk menolak segala bentuk tindakan kekerasan.
Melalui narasi yang tepat, MenPPPA menegaskan bahwa kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak-anak tidak boleh lagi direduksi sebagai persoalan privat atau urusan rumah tangga yang tabu untuk dilaporkan. Sebaliknya, isu ini merupakan tanggung jawab sosial bersama demi menghadirkan penanganan yang optimal.
"Kita ingin membangun kesadaran bahwa kekerasan tidak boleh terjadi kepada siapa pun dan di mana pun. Oleh karena itu, korban maupun masyarakat yang mengetahui adanya tindak kekerasan harus berani bersuara, keberanian untuk melapor dan mencari pertolongan adalah langkah awal untuk memutus rantai kekerasan dan menghadirkan perlindungan bagi korban," tegas Arifah.

Ilustrasi. Foto: Freepik.com.
Lewat pendekatan inklusif di media, Arifah berharap pesan-pesan perlindungan ini dapat merangkul kelompok rentan yang selama ini memilih bungkam akibat intimidasi atau ketidaktahuan.
Di sisi lain, KemenPPPA juga mendorong seluruh platform media untuk mulai menggagas program-program edukasi interaktif yang menempatkan anak-anak serta remaja sebagai subjek utama. Ruang ini dinilai krusial agar generasi muda bisa menyuarakan tantangan riil yang mereka hadapi, mulai dari isu kesehatan mental, pergaulan bebas, hingga mekanisme perlindungan diri.
"Kita perlu mendengarkan suara anak dan remaja secara langsung. Mereka yang paling memahami persoalan yang mereka hadapi saat ini. Karena itu, penting bagi kita untuk menghadirkan ruang dialog yang memungkinkan mereka berbicara dan menyampaikan solusi dari perspektif mereka sendiri," ucap Arifah.