Kombinasi foto ini menampilkan Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, juru kunci negosiasi AS-Iran di Islamabad, Pakistan. (Dok. Kantor Perdana Menteri Pakistan via Dawn)
3 Poin yang Picu Negosiasi Damai AS-Iran Temui Jalan Buntu
Riza Aslam Khaeron • 14 April 2026 11:05
Jakarta: Upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April 2026 menemui jalan buntu.
Pertemuan ini dilakukan guna mengakhiri konflik yang telah berkecamuk selama lebih dari 40 hari sejak pecah pada 28 Februari 2026 lalu.
Dalam wawancaranya dengan Fox News, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengakui bahwa kedua belah pihak sebenarnya telah membuat banyak kemajuan selama negosiasi di Islamabad. Namun, diplomasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan formal.
Situasi justru semakin memanas setelah AS melakukan eskalasi dengan memblokade Selat Hormuz, menambah panjang daftar hambatan setelah sebelumnya Iran telah melakukan pemblokiran serupa sejak minggu pertama perang.
Lantas apa poin-poin dalam negosiasi gencatan senjata yang tidak memiliki titik temu dan sekarang tengah mengancam penangguhan konflik tersebut? Berikut poin-poinnya.
Program Nuklir dan Pengayaan Uranium
Persoalan nuklir dan pengayaan uranium Iran menjadi kendala utama yang paling sulit dipecahkan. Isu ini sebenarnya telah mengalami kebuntuan jauh sebelum perang meletus. Teheran tetap bersiteguh bahwa program nuklir mereka murni untuk tujuan sipil, sementara Washington gigih menuduh bahwa aktivitas tersebut dirancang untuk pengembangan senjata militer.Berdasarkan laporan Reuters pada 14 April 2026, seorang pejabat Gedung Putih menyampaikan kepada lembaga berita tersebut bahwa Amerika Serikat mendesak Iran untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium, membongkar semua fasilitas pengayaan nuklir utama, serta menyerahkan uranium yang telah diperkaya tinggi (highly enriched uranium).
Meski laporan The New York Times (NYT) menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan untuk menangguhkan pengayaan uranium selama lima tahun, tawaran tersebut tampaknya belum memuaskan Washington yang menuntut penghentian program secara total.
“Kita harus memastikan material yang telah diperkaya tersebut keluar dari Iran. Kita harus mendapatkan komitmen konklusif dari mereka untuk tidak mengembangkan senjata nuklir,” tegas Vance kepada Fox News.
“Jika pihak Iran bersedia menyepakati hal tersebut, maka ini bisa menjadi kesepakatan yang sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak,” tambahnya.
Akses Selat Hormuz
Di tengah tumpukan masalah yang ada, muncul isu Selat Hormuz sebagai topik baru yang tidak pernah dibahas dalam perundingan sebelumnya. Selat ini merupakan titik transit vital bagi pasokan energi global yang secara efektif telah diblokade oleh Iran, namun AS bersumpah untuk membukanya kembali.Dalam proposal 10 poin yang sempat dilaporkan media Iran, Teheran ingin pengakuan otoritas terhadap Selat Hormuz dan perwujudan tersebut diyakini dengan membiarkan Teheran mengenakan biaya tol (toll fee) bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari syarat mengakhiri perang dengan Israel dan AS.
Sebaliknya, merujuk pada laporan Reuters, pihak Amerika Serikat menuntut agar Selat Hormuz dibuka sepenuhnya tanpa ada pungutan biaya apa pun.
Mengingat sebelum perang pecah selat ini terbuka bebas bagi semua pihak, mengakui kontrol Iran atas wilayah tersebut dianggap akan menempatkan posisi strategis AS lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum konflik dimulai.
“Setiap bentuk pengakuan terhadap hak Iran untuk mengendalikan lalu lintas di selat tersebut, yang tadinya terbuka hingga Operasi Epic Fury dimulai, akan menjadi kekalahan strategis bagi Amerika Serikat,” ujar James M. Lindsay, pengamat dari Council on Foreign Relations.
| Baca Juga: Apa Itu Gencatan Senjata? Ini Pengertian dan Tujuannya-World In Minute |
Sanksi dan Pencairan Aset
Washington telah memberlakukan berbagai bentuk sanksi primer dan pembatasan langsung terhadap transaksi keuangan Iran sejak Revolusi Islam 1979.Sanksi-sanksi tersebut telah memperparah kondisi ekonomi Teheran dan sering kali ditunjuk sebagai pemicu krisis ekonomi yang menyebabkan proses massal hingga pembantaian pada bulan Januari lalu.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa pihak Iran mendesak pencabutan seluruh sanksi primer maupun sekunder, serta menuntut pencairan semua aset mereka yang saat ini dibekukan.
Meskipun AS telah memberi sinyal kesediaan untuk menangguhkan beberapa sanksi melalui proposal 15 poin AS yang beredar sebelumnya, kedua pihak gagal menyepakati besaran aset beku yang dapat diakses kembali oleh Teheran, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.
Menurut informasi dari 11 sumber kepada Reuters, ketiga poin di atas merupakan alasan utama mengapa pertemuan di Islamabad berakhir tanpa hasil.
Isu krusial lainnya yang turut dibahas mencakup tuntutan AS agar Iran menghentikan pendanaan bagi kelompok proksinya, seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman, serta tuntutan Iran akan jaminan keamanan dari serangan lanjutan AS-Israel dan pembiayaan rekonstruksi Iran pascaperang.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com