Tarawih perdana di UMM. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
UMM Serukan Ramadan Sebagai Momen Pembentukan Karakter dan Intelektual
Daviq Umar Al Faruq • 18 February 2026 12:13
Malang: Tarawih perdana Ramadan 1447 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Jawa Timur, menjadi lebih dari sekadar pembuka ibadah malam. Seruan kebangkitan intelektual menggema di hadapan ratusan jamaah di Masjid AR. Fachruddin, Selasa malam, 17 Februari 2026.
Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan Ramadan bukan hanya momentum menahan lapar dan dahaga. Bulan suci, menurutnya, harus dimaknai sebagai titik tolak kebangkitan peradaban kaum intelektual.
“Jika seluruh dimensi ibadah melekat terintegrasi sebagai bagian dari kehidupan keseharian kita, maka selalu akan ada dorongan untuk membuat kemajuan-kemajuan baru, bukan justru melakukan perusakan,” tegas Nazar di Malang, Selasa, 17 Februari 2026.
Nazar mengingatkan agar ibadah tidak berhenti pada rutinitas ritual semata. Ramadan harus menjadi ruang pembentukan karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang membawa bangsa menuju kemajuan nyata.
Ia mengajak jamaah merenungkan esensi ibadah pada malam pertama Ramadan tersebut. Salat, puasa, dan zakat, kata dia, mesti terinternalisasi sebagai kekuatan sosial tanpa pamrih yang mendorong kemajuan bersama.

Tarawih perdana di UMM. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Dalam konteks pendidikan tinggi, Kampus Putih berkomitmen menjadikan nilai Ramadan sebagai fondasi Center of Excellence. Pendidikan diposisikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi bangsa dari karakter pasif menjadi pribadi tangguh dan progresif.
Ia mendorong mahasiswa dan dosen menjadi Ulul Albab, sosok yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Pendidikan, lanjutnya, harus menjadi ibadah yang melahirkan kebudayaan luhur serta semangat pembaruan tanpa henti.
Nazar juga menyinggung tantangan sosial, mulai dari ketidaktertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Ia menilai perilaku koruptif bukan semata soal materi, melainkan kegagalan menahan ego di ruang sosial.
“Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan, sekaligus kedisiplinan itu dapat mencegah karakter yang korup, di mana perilaku korup bisa dimaknai luas sebagai ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelas Nazar.

Tarawih perdana di UMM. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Dalam perspektif yang lebih luas, ia menguraikan makna jihad sebagai badzlul juhdi atau ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Muslim yang berpuasa, menurutnya, harus memiliki etos kerja superior, solutif, dan inovatif agar tidak sekadar menjadi konsumen peradaban.
“Bangsa yang unggul adalah bangsa yang di dalam kesehariannya selalu berpikir untuk melakukan perubahan sedapat mungkin, perubahan yang membawa kebaikan, perubahan yang memberi dampak kemajuan dan membesarkan hati semua orang,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut.
Menutup ceramahnya, Nazar berharap Ramadan 1447 H di UMM mengkristal menjadi gerakan kolektif kampus. Ia ingin lahir insan yang saleh secara ritual sekaligus sosial-intelektual, serta mampu menghadirkan solusi konkret bagi persoalan bangsa.
“Marilah kita jadikan titik berpikir kita bagaimana mewujudkan the society of Ulul Albab, masyarakat yang dipenuhi keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik dan memberikan kemajuan bagi lingkungannya,” ungkap Nazar.