Gunung Merapi memuntahkan awan panas guguran pada Jumat malam, 24 Juli 2026.
Sepekan, Merapi Diguncang 1.205 Gempa dan 98 Kali Awan Panas
Agus Utantoro • 15 August 2026 16:44
Yogyakarta: Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mencatat sebanyak 1.205 kali gempa bumi dan 98 kali awan panas guguran terjadi di kawasan puncak Gunung Merapi dalam kurun waktu sepekan, terhitung mulai Jumat, 7 Agustus hingga Kamis, 13 Agustus 2026.
Kepala BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa aktivitas kegempaan di puncak Gunung Merapi tersebut didominasi oleh gempa guguran (RF) sebanyak 620 kali. Disusul kemudian oleh gempa fase banyak (multi-phase/MP) sebanyak 518 kali, gempa vulkanik dangkal (VTB) sebanyak 49 kali, 14 kali gempa tektonik (TT), serta empat kali gempa awan panas guguran (APG).
"Intensitas kegempaan pada periode pengamatan ini lebih rendah dibandingkan dengan intensitas kegempaan pada minggu sebelumnya," kata Agus dalam keterangan resmi di Yogyakarta, Jumat malam, 14 Agustus 2026.
Berdasarkan pengamatan visual, kubah lava menunjukkan sedikit perubahan morfologi pada Kubah Barat Daya yang diakibatkan oleh perubahan volume kubah serta aktivitas guguran lava. Sedangkan untuk Kubah Tengah, tidak teramati adanya perubahan morfologi yang signifikan. Berdasarkan analisis foto udara per 1 Agustus 2026, volume Kubah Barat Daya dan Kubah Tengah tercatat berturut-turut sebesar 4.039.600 meter kubik dan 2.369.400 meter kubik.
.png)
Gunung Merapi memuntahkan awan panas guguran pada Jumat malam, 24 Juli 2026.
Agus menambahkan, selama sepekan pengamatan ini tidak tercatat adanya kejadian hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi, serta tidak ada laporan penambahan debit aliran maupun lahar di sungai-sungai yang berhulu di gunung aktif tersebut.
Kendati demikian, data pemantauan menunjukkan bahwa suplai magma dari perut bumi masih terus berlangsung, yang sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Secara umum, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif.
"Status aktivitas ditetapkan dalam tingkat Siaga," tegasnya.