Maroko menggagalkan upaya sekitar 300 migran menyeberang dari Fnideq menuju Ceuta, Spanyol. (Anadolu Agency)
Maroko Gagalkan Upaya 300 Migran yang Hendak Menyeberang ke Ceuta Spanyol
Willy Haryono • 15 August 2026 20:11
Rabat: Otoritas Maroko menggagalkan upaya penyeberangan massal sekitar 300 migran tanpa status hukum yang sah dari Kota Fnideq menuju Ceuta, wilayah yang berada di bawah administrasi Spanyol, pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Para migran, yang sebagian besar berasal dari negara-negara Afrika sub-Sahara, dilaporkan berkumpul di kawasan pegunungan di sekitar Ceuta pada Sabtu pagi.
Pemerintah setempat mengatakan aparat keamanan berhasil mencegah mereka mendekati maupun memasuki wilayah tersebut.
Gubernur Fnideq, mengutip seorang pejabat keamanan yang tidak disebutkan namanya, mengatakan pengerahan pasukan secara intensif dan terkoordinasi di sekitar Ceuta dan Melilla berhasil mencegah upaya penyeberangan massal.
Situasi di titik-titik perbatasan juga dilaporkan tetap normal.
Dikutip dari Anadolu Agency, tidak ada bentrokan maupun kerusakan material yang dilaporkan dalam operasi tersebut.
Otoritas Maroko mengatakan aparat mengerahkan personel dalam jumlah besar serta peralatan pemantauan, termasuk drone pengawas dan perangkat bergerak, untuk mencegah upaya penyeberangan.
Pemerintah Maroko telah meningkatkan kehadiran aparat keamanan di Fnideq dalam beberapa hari terakhir. Pencarian serta langkah-langkah pengamanan juga terus dilakukan di sejumlah lokasi di kota tersebut.
Di Tengah Peringatan Penyeberangan Massal
Upaya penyeberangan tersebut terjadi pada tanggal yang sebelumnya disebut Kementerian Dalam Negeri Maroko dalam peringatan mengenai seruan anonim di media sosial untuk melakukan penyeberangan massal menuju Ceuta dan Melilla.Ceuta dan Melilla merupakan dua enklave di pantai utara Afrika yang berada di bawah administrasi Spanyol. Maroko tetap mengklaim kedaulatan atas kedua wilayah tersebut.
Ketegangan di kawasan tersebut juga berkaitan dengan gelombang penyeberangan migran sebelumnya.
Pada 8 Agustus, Dewan Nasional Hak Asasi Manusia Maroko mengatakan jumlah korban tewas dalam gelombang penyeberangan menuju Ceuta telah mencapai 14 orang. Sementara itu, angka yang disampaikan otoritas Spanyol mencapai 80 korban jiwa.
Perbedaan juga muncul dalam perkiraan jumlah orang yang mencoba melakukan penyeberangan.
Otoritas Maroko memperkirakan sekitar 40.000 orang berupaya menyeberang, sedangkan otoritas Spanyol menyebut jumlahnya lebih dari 70.000 orang.
Ceuta dan Melilla menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan Afrika dengan wilayah Uni Eropa melalui Spanyol. Posisi geografis kedua enklave tersebut membuatnya menjadi titik penting dalam persoalan migrasi antara Afrika Utara dan Eropa.
Pengamanan ketat di Fnideq dilakukan ketika Maroko dan Spanyol berupaya mencegah terulangnya gelombang penyeberangan massal yang sebelumnya menimbulkan korban jiwa.
Hingga Sabtu, situasi di perbatasan dilaporkan tetap terkendali dan tidak ada laporan mengenai bentrokan dalam upaya penyeberangan terbaru tersebut.
Baca juga: Kritik Italia, Spanyol Desak Solidaritas Uni Eropa atas Krisis Migran Ceuta