Aktivitas petir dan sebaran data kegempaan di wilayah sekitar Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau. (Dokumentasi/ BMKG)
BMKG Kaji Penyebab Dentuman Beruntun di Bandung Raya
Roni Kurniawan • 5 September 2026 13:33
Bandung: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menduga dentuman beruntun yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya, merupakan fenomena gempa langit (skyquake). Namun, BMKG masih mengkaji penyebab pasti dentuman tersebut.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi mengatakan, hasil pemantauan citra satelit tidak menunjukkan adanya gumpalan awan di wilayah Bandung Raya saat dentuman terjadi.
"Justru pada jam yang sama itu terekam adanya aktivitas vulkanik di Krakatau. Jadi letusan, dan letusan gunung api. Nah, dari data ini maka terlihat ya adanya aktivitas vulkanik di sekitar Krakatau," ujar Suaidi di Bandung, Sabtu, 5 September 2026.
BMKG juga memastikan aktivitas seismik di wilayah Sesar Lembang tidak menunjukkan peningkatan signifikan saat dentuman terdengar. "Artinya tidak ada aktivitas seismik yang berkembang pada saat jam yang kita curigai ini," jelas Suadi.
Selain data seismik, BMKG mencermati data dari stasiun magnet bumi di Serang, Banten, dan Sukabumi. Hasil pemantauan menunjukkan adanya aktivitas yang berlangsung bersamaan dan diduga memiliki korelasi dengan aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau.
"Jadi aktivitas skyquake ini, maksudnya dentuman langit, kita curigai adanya fenomena yang tidak lazim. Artinya rekaman darat itu kita curigai sebagai aktivitas Krakatau ya, baik dari informasi satelit citra awan dan aktivitas magnetik juga dari data petir," bebernya.
BMKG masih mengkaji sejumlah faktor untuk mengungkap penyebab dentuman tersebut. Salah satunya aktivitas petir di Bandung Raya yang justru sangat minim saat dentuman terjadi.
"Nah ini ternyata pas kejadian aktivitas tersebut itu memiliki aktivitas konsentrasi thunderstorm atau petir yang sangat dominan di wilayah Krakatau. Menariknya adalah di Kota Bandung, Bandung, dan sekitarnya itu sedikit sekali petir," tutur Suadi.

Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB, Jumat, 4 September 2026. (Dokumentasi/ Magma Indonesia)
Kondisi tersebut membuat BMKG belum dapat memastikan secara akademis mekanisme yang menyebabkan suara dentuman terdengar di Bandung Raya.
"Artinya ini masih menjadi kecurigaan kami. Dalam istilah akademis bahwa aktivitas tersebut di Bandung Raya dan sekitarnya kita definisikan sebagai skyquake atau dentuman langit, atau disebut juga dengan gempa langit," papar Suaidi.
Menurutnya, fenomena gempa langit hingga kini belum dapat dijelaskan secara pasti. Sebab, data kegempaan dan aktivitas petir di sekitar Bandung Raya tidak menunjukkan kondisi yang lazim memicu suara dentuman.
"Nah skyquake ini fenomenanya masih belum bisa dijelaskan secara akademis terkait dengan dentuman ini. Karena pertama dari segi kegempaan itu tidak ada, dari segi aktivitas petir juga tidak ada, dari aktivitas vulkanik tentunya jauh dari Kota Bandung dan sekitarnya," ungkap Suadi.
Sebelumnya, sejumlah warga di Bandung Raya merasakan dan mendengar dentuman yang sangat kencang pada Jumat hingga Sabtu dini hari. Dentuman tersebut terasa bersamaan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.