AS Isyaratkan Opsi Militer jika Kesepakatan Nuklir dengan Iran Gagal

Menteri Energi AS Chris Wright. (Anadolu Agency)

AS Isyaratkan Opsi Militer jika Kesepakatan Nuklir dengan Iran Gagal

Muhammad Reyhansyah • 7 September 2026 13:22

Washington: Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu tercapai dan membuka kemungkinan kembali menggunakan kekuatan militer untuk menghancurkan kemampuan Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump belum mengetahui apakah kesepakatan dengan Iran dapat diwujudkan.

"Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir," kata Wright kepada ABC News, dikutip dari Anadolu, Senin, 7 September 2026.

"Bisa jadi kita hanya perlu menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya. Kesepakatan mungkin menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami benar-benar tidak tahu," lanjutnya.

Ketika ditanya apakah pengeboman berkelanjutan dapat menjadi strategi untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, Wright mengatakan kemampuan Iran untuk mengembangkan senjata tersebut harus dihancurkan.

"Anda harus menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya," ujarnya.

Wright juga mengatakan Iran sebelumnya telah membangun infrastruktur besar untuk memproduksi rudal. Menurutnya, serangan AS dan Israel telah menghancurkan kemampuan Teheran untuk memproduksi lebih banyak rudal, meski Iran masih menggunakan persediaan rudal yang dimilikinya.

Pernyataan tersebut muncul ketika pelaksanaan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran masih menghadapi perselisihan.

Kesepakatan yang dimediasi Pakistan dan Qatar pada Juni tersebut mencakup sejumlah langkah untuk mengakhiri permusuhan, membuka kembali Selat Hormuz, serta mengatasi pembatasan ekonomi terhadap Iran.

Namun, Washington dan Teheran kemudian saling menuduh gagal memenuhi komitmen dalam MoU tersebut.

Selat Hormuz Jadi Titik Perselisihan

Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik utama perselisihan antara AS dan Iran.

Washington menyatakan jalur pelayaran internasional tersebut telah dibersihkan dari ranjau Iran dan puluhan kapal telah melintas setiap hari. Iran sebaliknya menegaskan Selat Hormuz masih berada di bawah kendalinya dan belum aman untuk pelayaran komersial.

Wright mengatakan rata-rata volume minyak yang melintasi Selat Hormuz dalam tujuh hari terakhir telah mencapai lebih dari 9 juta barel per hari. Angka tersebut, menurutnya, merupakan volume tertinggi yang pernah tercatat.

Pernyataan Wright memperlihatkan bahwa meski jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih terbuka, pemerintahan Trump belum menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer jika upaya mencapai kesepakatan nuklir kembali menemui jalan buntu.

Baca juga: Iran Akan Balas Serangan Serupa Jika AS Gunakan Senjata Nuklir

(Willy Haryono)