Presiden Taiwan Lai Ching-te. Foto: Anadolu
Taiwan Tegaskan Komitmen Perkuat Pertahanan Usai Latihan Militer Tiongkok
Muhammad Reyhansyah • 1 January 2026 20:05
Taipei: Presiden Taiwan Lai Ching-te pada Kamis, 1 Januari 2026 menegaskan pulau itu bertekad mempertahankan kedaulatannya dan memperkuat pertahanan nasional di tengah meningkatnya ekspansi militer Tiongkok.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul latihan militer Beijing yang mencakup peluncuran roket ke arah Taiwan.
Dalam pidato Tahun Baru 2026 yang disiarkan langsung dari kantor kepresidenan, Lai mengatakan komunitas internasional tengah memperhatikan apakah rakyat Taiwan memiliki tekad untuk mempertahankan diri.
“Sebagai presiden, sikap saya selalu jelas: mempertahankan kedaulatan nasional secara tegas dan memperkuat pertahanan negara,” ujarnya, dikutip dari AsiaOne, Kamis, 1 Januari 2026.
Lai menyinggung latihan militer Tiongkok pekan ini yang menjadikan kemampuan tempur baru Taiwan sebagai lawan hipotetis. Menurutnya, hal tersebut menegaskan urgensi peningkatan pengadaan pertahanan.
Ia mendesak partai-partai oposisi mendukung rencananya menaikkan anggaran pertahanan hingga USD40 miliar, proposal yang saat ini terhambat kebuntuan politik di parlemen yang dikuasai oposisi.
Masa Depan Krusial Taiwan
Menanggapi laporan Amerika Serikat yang menyebut Tiongkok tengah mempersiapkan kemampuan untuk memenangkan konflik terkait Taiwan pada 2027, Lai mengatakan pencapaian target Beijing merupakan persoalan tersendiri. “Tahun 2026, akan menjadi tahun yang krusial bagi Taiwan,” katanya. Ia menambahkan Taiwan harus bersiap menghadapi skenario terburuk, namun tetap berharap pada hasil terbaik.
Meski demikian, Lai menegaskan Taiwan tetap terbuka untuk dialog dengan Tiongkok. “Kami bersedia menjalin pertukaran dan kerja sama dengan Tiongkok atas dasar setara dan bermartabat, demi mendorong lingkungan damai dan berbagi di seberang selat,” ujarnya.
Menurut Lai, hal itu dapat terwujud selama Tiongkok mengakui keberadaan Republik Tiongkok dan menghormati keinginan rakyat Taiwan untuk menjalani kehidupan yang demokratis dan bebas.
Tiongkok mengklaim Taiwan, yang diperintah secara demokratis, sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mengambil alih pulau tersebut. Taiwan secara konsisten menolak klaim tersebut.
Latihan Militer Tiongkok
Pidato Lai disampaikan dua hari setelah latihan militer Tiongkok bertajuk Justice Mission 2025. Dalam latihan tersebut, Beijing menembakkan puluhan roket ke arah Taiwan serta mengerahkan sejumlah besar kapal perang dan pesawat tempur di sekitar pulau. Unjuk kekuatan itu memicu kekhawatiran sejumlah mitra Barat, termasuk Komisi Eropa dan Inggris.Pemerintah Taiwan mengecam latihan tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan regional dan provokasi terbuka. Beijing pada Rabu malam menyatakan latihan telah selesai dan menegaskan militernya akan terus memperkuat kesiapan tempur.
Presiden Tiongkok Xi Jinping, dalam pidato Tahun Baru pada Rabu malam, kembali mengulang peringatan kepada apa yang disebut Beijing sebagai kekuatan separatis. Ia menegaskan bahwa penyatuan kembali Tiongkok dengan Taiwan tidak dapat dihentikan.
Latihan itu, yang disebut sebagai yang terbesar dari sisi cakupan wilayah dan paling dekat dengan Taiwan sejauh ini, memaksa pulau tersebut membatalkan puluhan penerbangan domestik serta mengerahkan jet tempur dan kapal perang untuk memantau manuver militer Tiongkok.
Manuver Beijing berlangsung 11 hari setelah Amerika Serikat mengumumkan paket penjualan senjata senilai USD11,1 miliar untuk Taiwan. Untuk pertama kalinya, militer Tiongkok menyatakan latihan tersebut secara khusus ditujukan untuk mencegah campur tangan pihak luar.