Ekspor Gas Qatar Berkurang 17 Persen Akibat Hantaman Rudal

Fasilitas gas milik Qatar. Foto: Anadolu

Ekspor Gas Qatar Berkurang 17 Persen Akibat Hantaman Rudal

Elvina Sihombing • 20 March 2026 16:15

Doha: Qatar menyatakan bahwa serangan rudal Iran terhadap kawasan industri Ras Laffan telah mengurangi jumlah ekspor gas alam cair Qatar hingga 17 persen.

Perusahaan energi milik negara, QatarEnergy, menyebut kerusakan tersebut diperkirakan menyebabkan kerugian sekitar USD20 miliar per tahun dan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk diperbaiki.

Perusahaan milik negara, QatarEnergy, menyebut bahwa kerusakan yang terjadi akibat serangan rudal yang menghantam Kawasan industry tersebut telah mengganggu pasokan energi ke pasar Eropa dan Asia.

“Saya lega dapat memastikan tidak ada korban luka dalam serangan yang tidak dapat dibenarkan ini, yang bukan hanya menyerang Qatar tetapi juga mengancam keamanan dan stabilitas energi global,” ujar Menteri Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy, Saad Sherida Al-Kaabi, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat 20 Maret 2026.

Al-Kaabi mengatakan, perbaikan fasilitas gas alam cair tersebut diperkirakan memakan waktu antara tiga hingga lima tahun, sehingga perusahaan terpaksa menyatakan pembekuan jangka panjang pada sejumlah kontrak gas alam cair.

“Dampaknya dirasakan oleh Tiongkok, Korea Selatan, Italia, dan Belgia. Kami kemungkinan harus memberlakukan pembekuan hingga lima tahun pada beberapa kontrak jangka panjang,” ujarnya.

Serangan juga menyasar fasilitas Pearl GTL yang dioperasikan oleh Shell, yang mengolah gas alam menjadi bahan bakar lebih bersih serta produk turunan lainnya. Salah satu dari dua unit produksi di fasilitas tersebut diperkirakan akan berhenti beroperasi setidaknya selama satu tahun.

QatarEnergy juga memperingatkan adanya penurunan produksi produk terkait, termasuk kondensat, LPG, nafta, sulfur, dan helium, yang sebagian besar merupakan komoditas ekspor penting negara tersebut.

Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan Teluk.

Sebelumnya, QatarEnergy juga telah menyatakan pembekuan kepada sejumlah pembeli setelah menghentikan produksi gas alam cair akibat serangan drone Iran pada awal bulan ini.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)