Tutup Rencana Aksi 5 Tahun, RI-Tiongkok Bersiap Perkuat Kemitraan Strategis Baru

Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong. Foto: Metrotvnews.com

Tutup Rencana Aksi 5 Tahun, RI-Tiongkok Bersiap Perkuat Kemitraan Strategis Baru

Fajar Nugraha • 24 June 2026 10:50

Jakarta: Hubungan kerja sama antara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Republik Indonesia dilaporkan telah mencatatkan berbagai pencapaian konkret di berbagai sektor industri.

Memasuki tahun 2026 yang merupakan akhir dari implementasi Rencana Aksi Penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif (2022-2026), kedua negara kini bersiap untuk memperdalam visi modernisasi bersama dan membangun masa depan baru yang lebih kuat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, saat menyampaikan pidato utama dalam acara Tiongkok - Indonesia Think Tank and Media Forum bertajuk "A New Journey - Forging a New Future for the Tiongkok - Indonesia Comprehensive Strategic Partnership" yang digelar di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, pada Rabu, 24 Juni.

Dalam pemaparannya, Lutong merinci bahwa indikator keberhasilan hubungan bilateral kedua negara terlihat jelas dari volume perdagangan dua arah yang menyentuh angka USD167,5 miliar pada tahun lalu. Nilai fantastis tersebut sekaligus mengukuhkan posisi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar bagi Indonesia selama 13 tahun berturut-turut.

Selain sektor perdagangan, Wang juga menyoroti operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) di Pulau Jawa yang terbukti sukses memacu pertumbuhan ekonomi kawasan secara kilat.

Kerja sama strategis ini kini terus diakselerasi melalui pendalaman rantai pasok industri, serta ekspansi kolaborasi di sektor masa depan seperti kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, dan transisi energi hijau.

"Masing-masing hasil yang dicapai menunjukkan bahwa kerja sama Tiongkok-Indonesia selalu saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Terdapat titik temu yang luas dan mendalam antara modernisasi Tiongkok dan visi Indonesia Emas 2045," ujar Lutong dalam pidatonya.

Lebih lanjut, Wang menjelaskan bahwa esensi kemitraan kedua negara saat ini telah berevolusi secara signifikan. Kerja sama yang semula berfokus pada konektivitas fisik infrastruktur keras, kini mulai merambah ke arah penyelarasan aturan serta standar kelembagaan, hingga penguatan hubungan antarmasyarakat.

Dalam proses transformasi diplomasi ini, Wang Lutong menilai kontribusi dari institusi pemikir dan media massa memiliki peran yang sangat krusial. Para akademisi dan jurnalis dipandang bukan sekadar menjadi saksi sejarah, melainkan aktor aktif yang membangun fondasi opini publik yang kuat bagi kedua negara.

Menyinggung peta politik global, Duta Besar Tiongkok Lutong mengatakan bahwa jalur modernisasi yang ditempuh oleh negaranya merupakan bukti bahwa proses kemajuan sebuah bangsa tidak harus selalu berkiblat pada kebudayaan Barat.

"Masa depan Tiongkok akan terus melangkah bergandengan tangan dengan mitra-mitra 'Global South' termasuk Indonesia, guna memberikan dukungan kuat bagi negara-negara berkembang lainnya dalam mengeksplorasi jalur modernisasi mereka sendiri," tambah Dubes Lutong menekankan posisi politik luar negeri Beijing.

Menutup pidatonya di hadapan para tokoh media dan peneliti, Wang Lutong menegaskan komitmen Tiongkok untuk terus mendorong tata tertib internasional ke arah yang lebih adil dan rasional melalui empat inisiatif global yang diusung oleh Presiden Xi Jinping.

Langkah bersama ini diharapkan mampu menginjeksikan stabilitas serta energi positif di tengah situasi dunia yang saat ini penuh dengan gejolak konflik.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)