Umat Tionghoa di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu 11 Februari 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Hormati Ramadan, Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Eng An Kiong Malang Digelar Sederhana
Daviq Umar Al Faruq • 13 February 2026 10:18
Malang: Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, Jawa Timur, dipastikan berlangsung lebih sederhana tahun ini. Pengurus memilih membatasi kegiatan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang menjalani bulan suci Ramadan.
Ketua Agama sekaligus Wakil Ketua Umum yayasan, Herman Subianto, menyebut keputusan itu diambil agar suasana bulan puasa tetap terjaga. Penyesuaian dilakukan tanpa mengurangi kekhidmatan ibadah umat yang merayakan Imlek.
“Biasanya Cap Go Meh kami adakan di aula dan mengundang Wali Kota serta masyarakat sekitar. Tahun ini tidak, hanya internal saja dan lebih soft,” kara Herman, Kamis 12 Februari 2026.
Biasanya agenda Cap Go Meh di Klenteng Eng An Kiong digelar meriah dan terbuka bagi masyarakat. Namun pada perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, kegiatan difokuskan secara internal.
Sejumlah agenda yang identik dengan kemeriahan untuk sementara ditiadakan. Pengurus menilai waktunya terlalu berdekatan dengan Ramadan.
“Watang Potehi sepertinya tahun ini belum ada, karena waktunya berdekatan dengan bulan puasa,” ungkap Herman.
Pertunjukan wayang potehi yang rutin dihadirkan dari Kecamatan Gudo biasanya menjadi daya tarik warga. Tahun ini panggung tersebut sengaja ditiadakan demi menjaga sensitivitas suasana.
.jpg)
Umat Tionghoa di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu 11 Februari 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Meski demikian, Herman menegaskan rangkaian ibadah tetap berjalan dengan penuh kekhusyukan. Pembatasan dipandang sebagai wujud komitmen merawat toleransi antarumat beragama di Kota Malang.
“Kami jaga situasi bulan Ramadan, ini juga bentuk perhormatan kami. Harapannya seluruh kegiatan keagamaan di Kota Malang tetap berjalan dengan kondusif,” ungkap Herman.
Sebelum Cap Go Meh, umat lebih dahulu menggelar sembahyang bersama dalam peringatan Song Shen Jie. Tradisi itu dilanjutkan dengan ritual pembersihan rupang atau patung dewa dewi.
Sebanyak 36 rupang dibersihkan di seluruh altar secara gotong royong oleh pengurus dan umat. Selain persiapan fisik, prosesi tersebut dimaknai sebagai simbol penyucian diri menyambut tahun yang baru.
Lewat pembersihan altar, umat diajak menata kembali hati dan niat. Harapannya, perayaan Imlek membawa ketenteraman sekaligus memperkuat harmoni di tengah masyarakat.