Ilustrasi MBG. Foto- Dok. Antara
Hasil Studi: MBG Kurangi Tekanan Pengeluaran Keluarga
Heryadi • 13 February 2026 23:24
Jakarta: Lembaga riset Research Institute of Socio-Economic Development (Rised) merilis temuan awal studi dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat. Sebanyak 36 persen rumah tangga melaporkan penurunan pengeluaran harian sejak program berjalan, terutama untuk bekal makan dan uang saku anak.
Namun, dari penelitian yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua penerima manfaat itu, sebanyak 63 persen menyebut penghematan masih di bawah 10 persen dari total pengeluaran bulanan.
Temuan ini menunjukkan MBG membantu menjaga stabilitas pengeluaran rutin, tetapi belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan. Program dinilai lebih berfungsi sebagai bantalan konsumsi dibanding instrumen peningkatan daya beli secara luas.
Meski dampak ekonominya terbatas, dukungan terhadap program tergolong tinggi, terutama dari kelompok rentan. Peneliti Rised, M. Fajar Rakhmadi, menyebut 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan mendukung keberlanjutan MBG.
“Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ujar Fajar, Jakarta, Jumat 13 Februari 2026.
Mayoritas responden juga menilai pelaksanaan program relatif konsisten. Sebanyak 84 persen menyebut MBG diterima setiap hari sekolah. Namun, 69 persen orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program kurang dari enam bulan sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat diukur.
Perubahan paling terlihat terjadi pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55% menyebut anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan.
Baca Juga:
Presiden: MBG Dongkrak Konsumsi Rumah Tangga, Ekonomi Desa Mulai Bergerak |
%20dan%20Ekonom%20Universitas%20Indonesia%2C%20Fithra%20Faisal%20Hastiadi_(Dok_Istimewa).jpg)
Peneliti Rised, M. Fajar Rakhmadi, (kiri) dan Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi.(Dok.Istimewa)
Meski demikian, Rised menegaskan dampak terhadap status gizi, kesehatan umum, maupun capaian pendidikan belum dapat disimpulkan pada tahap awal ini. Evaluasi jangka menengah dan panjang diperlukan untuk memastikan perubahan perilaku tersebut berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Rised juga memberikan sejumlah catatan untuk penyempurnaan kebijakan. Kejelasan posisi program dinilai penting karena MBG berada di antara program sosial, intervensi gizi, dan instrumen pembangunan SDM.
Selain itu, konsistensi kualitas menu, variasi gizi, serta ketepatan waktu distribusi perlu dijaga agar manfaat program tetap optimal. Evaluasi longitudinal dinilai krusial untuk mengukur kontribusi MBG terhadap pembangunan SDM dalam jangka panjang.
Kurangi Tekanan Pengeluaran
Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai MBG berpotensi mengurangi tekanan pengeluaran harian keluarga kelas menengah rentan.
"Kalau satu keluarga memiliki dua anak dan dibekali Rp15 ribu sehari, dengan 20 hari sekolah, ini berarti membantu mengurangi beban Rp600 ribu,” kata Fithra.
Menurut dia, jika program berjalan konsisten, dampaknya dapat lebih besar terhadap struktur ekonomi rumah tangga. “Kalau ini persistent, ini akan menciptakan surplus konsumen bagi kelas menengah. Dengan berkurangnya biaya konsumsi anak, rumah tangga memiliki fleksibilitas anggaran yang lebih luas dan bisa mengalihkan ke pendidikan atau kesehatan,” ujar dia.
Fajar menegaskan studi ini merupakan baseline untuk mendorong penguatan kebijakan berbasis data.
“Temuan awal ini kami posisikan sebagai baseline. Hasilnya dapat menjadi dasar penyempurnaan desain dan peningkatan kualitas implementasi MBG, sekaligus memperkuat sistem pemantauan di lapangan,” kata dia.