Sains Bukan Hal Asing bagi Indonesia

Ilustrasi sains. Foto: Pexels/Hera Permata S

Sains Bukan Hal Asing bagi Indonesia

Muhamad Marup • 9 August 2026 23:04

Banten: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), mengadakan Gelar Wicara bertajuk “Indonesia dalam Sejarah Sains, Sains dalam Sejarah Indonesia”, pekan lalu. Acara tersebut membahas perkembangan sains di Indonesia.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Kemendiktisaintek Ahmad Najib Burhani mengatakan, sejarah menunjukkan bahwa sains bukan sesuatu yang asing bagi Indonesia. Menurutnya, tradisi pengetahuan telah berkembang dalam masyarakat Nusantara melalui pengalaman empiris di bidang pelayaran, pertanian, pengobatan, astronomi, teknologi maritim, hingga pengelolaan lingkungan.

"Sains merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban Nusantara yang perlu terus dikembangkan untuk menjawab tantangan masa depan," ujar Najib, dikutip dari keterangan resminya, Minggu, 9 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, membaca kembali sejarah tersebut penting untuk membangun budaya sains dan kepercayaan diri bangsa. Pengetahuan yang telah tumbuh perlu terus dirawat dan dikaji kembali, sekaligus dipertemukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

"Sains tidak boleh hanya tumbuh di ruang laboratorium atau kampus, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjadi dasar pengambilan keputusan, serta mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat," jelasnya.

Gelar Wicara bertajuk “Indonesia dalam Sejarah Sains, Sains dalam Sejarah Indonesia”, pekan lalu. Foto: istimewa.

Sebagai informasi, Survei Nasional Persepsi dan Minat terhadap Saintek 2025 yang dilakukan bersama LSI terhadap 1.203 responden menunjukkan sebanyak 87,9 persen masyarakat percaya terhadap sains dan 81,1 persen percaya terhadap ilmuwan serta peneliti. Namun angka tersebut belum dibarengi dengan partisipasi masyarakat terhadap sains dan teknologi.

Pengetahuan Lokal

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menekankan pentingnya melihat sejarah sains secara lebih terbuka terhadap keberagaman sumber pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan lokal tidak perlu dipertentangkan dengan sains modern, tetapi perlu diangkat, dikaji secara kritis, dan dielaborasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Bonnie kemudian mengangkat gagasan pluriversalitas pengetahuan, yakni pengakuan bahwa pengetahuan dapat tumbuh dari beragam pengalaman, kebudayaan, dan konteks masyarakat. Pendekatan ini tidak berarti menolak rasionalitas ilmiah, tetapi menghindarkan sains dari cara pandang tunggal yang justru dapat mengabaikan pengetahuan yang telah lama hidup di masyarakat. Dalam kerangka tersebut, pengetahuan tradisional dapat menjadi sumber yang penting untuk diteliti lebih lanjut. Sains dapat berperan untuk menguji, memvalidasi, menjelaskan, dan mengembangkan pengetahuan lokal.

"Sehingga dapat dipahami secara lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat," jelasnya.

Sementara itu, Dosen Sejarah Universitas Padjadjaran, Budi Gustaman, menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah juga dapat ditemukan dalam pengalaman masyarakat membaca musim, perilaku satwa, hingga mengelola lingkungan. Pengamatan yang diwariskan lintas generasi tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan untuk kembali dikaji melalui pendekatan ilmiah.

(Muhamad Marup)