Bos Bulog Perketat Tata Kelola demi Jaga Mutu Beras

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani. Foto: ANTARA/Harianto.

Bos Bulog Perketat Tata Kelola demi Jaga Mutu Beras

Husen Miftahudin • 15 September 2026 10:36

Jakarta: Perum Bulog memperkuat tata kelola penyerapan, pengolahan, dan pemeliharaan cadangan beras pemerintah (CBP) untuk menjaga kualitas cadangan pangan nasional secara berkelanjutan.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari evaluasi terhadap pelaksanaan penyerapan gabah pada tahun sebelumnya yang menerapkan skema any quality. Evaluasi tersebut menemukan sejumlah tantangan terkait mutu hasil panen petani di beberapa wilayah produksi.

"Pengalaman ini kami evaluasi, maka di Inpres Tahun 2026 kami tambahkan klausulnya any quality dengan catatan masuk dalam usia panen. Nah, itu di Inpres bunyinya," kata Rizal di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 15 September 2026.

Rizal mengatakan hasil evaluasi menjadi dasar perbaikan mekanisme penyerapan gabah pada 2026. Bulog menambahkan ketentuan dalam penyerapan gabah any quality dengan syarat gabah berasal dari usia panen yang sesuai. Ketentuan tersebut ditujukan agar gabah yang dibeli dapat diolah menjadi beras pemerintah sesuai standar mutu.

Dalam proses penyerapan, Bulog melibatkan Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), serta penyuluh pertanian lapangan (PPL). Pelibatan tersebut dilakukan untuk memastikan rekomendasi panen diberikan terhadap gabah yang memenuhi persyaratan sebelum dilakukan pembelian.

"Makanya di tim serap gabah kami, di tiap-tiap desa itu melibatkan Babinsa, Bhabinkamtibmas, teman-teman PPL. Nah, jadi nanti setelah ada rekomendasi PPL mana yang dipanen, itu yang dibeli Bulog. Ini untuk menjaga kualitasnya supaya memenuhi syarat," papar Rizal.

Pengawasan sejak tahap panen dilakukan untuk menjaga kualitas bahan baku yang nantinya menentukan mutu beras hasil pengolahan Bulog.
 



(Gudang beras. Foto: dok Perum Bulog)
 

Pengolahan libatkan penggilingan mikro


Setelah gabah diserap, Bulog melanjutkan proses pengolahan melalui mitra penggilingan mikro di daerah. Mitra penggilingan yang digunakan telah melalui proses sertifikasi untuk memastikan fasilitas dan kemampuan produksinya memenuhi standar mutu. Pengolahan juga dilakukan dengan memperhatikan tingkat pecahan dan kadar air beras.

"Nah, diolah ini kami bermitra sesuai dengan arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) agar memprioritaskan mitra-mitra penggilingan mikro, yang kecil-kecil, bukan yang besar-besar. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah," kata Rizal.

Sertifikasi mitra penggilingan menjadi bagian dari pengawasan sebelum fasilitas tersebut dipercaya mengolah cadangan beras pemerintah.

Bulog juga menerapkan pemeliharaan stok secara bertahap dan berkelanjutan selama beras disimpan di gudang. Pemeriksaan dilakukan secara harian, mingguan, bulanan hingga semesteran. Sistem tersebut diterapkan untuk menjaga kondisi cadangan beras selama masa penyimpanan.

Pemeliharaan juga mencakup pengaturan posisi beras di gudang melalui rotasi penyimpanan. Langkah tersebut dilakukan agar beras yang berada di bagian bawah maupun atas tetap terjaga kualitasnya.

Bulog juga melakukan hilirisasi terhadap sebagian beras yang mengalami penurunan mutu setelah masa penyimpanan lebih dari delapan bulan. Rizal mengatakan keputusan mengenai pemanfaatan beras turun mutu tersebut telah dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Dalam rapat tersebut diputuskan Bulog dapat melelang pengelolaan beras turun mutu untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung beras. Adapun beras turun mutu yang dialihkan untuk produksi tepung beras mencapai sekitar 380 ribu ton.

(Husen Miftahudin)