Trump Dorong Diplomasi dengan Iran usai Peringatan Keras Khamenei

Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Anadolu Agency)

Trump Dorong Diplomasi dengan Iran usai Peringatan Keras Khamenei

Willy Haryono • 2 February 2026 07:23

Mar-a-Lago: Beberapa jam setelah Iran mengeluarkan peringatan keras di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia masih berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Teheran, meski terdapat ancaman meluasnya konflik regional.

Berbicara kepada wartawan saat berkunjung ke Mar-a-Lago pada Minggu, 1 Februari, Trump mengatakan bahwa ia tidak terkejut dengan pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan menyebut bahwa peringatan semacam itu wajar dalam situasi tegang.

“Tentu saja dia akan berkata seperti itu,” ujar Trump, dikutip dari India Today, Senin, 2 Februari 2026.

Ia menambahkan bahwa pemerintahannya tetap memprioritaskan diplomasi, sembari tetap membuka opsi lainnya. “Mudah-mudahan kita bisa membuat kesepakatan. Jika kita tidak membuat kesepakatan, maka kita akan melihat apakah ucapannya benar atau tidak,” kata Trump.

Pernyataan Khamenei dan Trump muncul di tengah ketidakpastian yang meningkat setelah berminggu-minggu berlangsungnya aksi protes di Iran.

Aksi itu dimulai pada akhir Desember akibat kesulitan ekonomi dan kondisi hidup, lalu berkembang menjadi tantangan politik paling serius bagi Republik Islam sejak 1979. Aparat keamanan merespons dengan tindakan keras, yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan ditangkap.

Setelah itu, AS meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di Timur Tengah, sementara Trump terus memperingatkan Iran mengenai kemungkinan intervensi jika Teheran menolak kesepakatan nuklir atau gagal menghentikan pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa.

Ketegangan Meningkat usai Peringatan Khamenei

Khamenei memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat akan berubah menjadi perang regional. Ia membandingkan aksi protes terbaru di Iran dengan sebuah “kudeta” yang didukung oleh AS dan Israel.

Menurutnya, kerusuhan tersebut merupakan bagian dari apa yang ia sebut sebagai “hasutan” yang bertujuan melemahkan kepemimpinan negara.

Khamenei juga mengomentari pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan, dengan mengatakan bahwa rakyat Iran tidak akan terintimidasi oleh ancaman.

“Kami bukan pihak yang memulai dan tidak ingin menyerang negara mana pun,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa Iran akan merespons secara keras terhadap setiap agresi.

Jalan Negosiasi yang Masih Tidak Jelas

Di saat yang sama, kedua pihak mengirimkan sinyal yang saling bertentangan terkait negosiasi.

Sabtu lalu, Trump mengatakan bahwa Iran sedang “serius berbicara” dengan Washington. Pernyataan tersebut menyusul komentar dari pejabat senior Iran yang mengindikasikan bahwa pengaturan untuk perundingan sedang dibahas.

Trump mengatakan ia berharap tercapainya kesepakatan melalui negosiasi yang dapat mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

“Saya berharap mereka menegosiasikan sesuatu yang dapat diterima,” tuturnya. “Anda bisa membuat kesepakatan hasil negosiasi yang memuaskan tanpa senjata nuklir.”

Iran menyatakan terbuka terhadap negosiasi yang "adil," namun menegaskan bahwa kemampuan pertahanannya tidak boleh dibatasi.

Baca juga:  Ayatollah Ali Khamenei: Serangan AS ke Iran Akan Picu Perang Regional

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)