Kegiatan The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 yang digelar di Auditorium Cyber UNAS, Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026. Metro TV/Reyhan
ICGI 2026, UNAS Soroti Polycrisis dan Ketahanan Global Menuju 2030
Muhammad Reyhansyah • 15 October 2026 20:20
Jakarta: Universitas Nasional (UNAS) menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan global dalam menghadapi berbagai krisis yang saling berkaitan atau polycrisis mulai dari konflik geopolitik, ketidakpastian ekonomi, hingga ancaman ketahanan energi dan pangan menjelang 2030. Polycrisis merupakan kondisi ketika berbagai krisis terjadi bersamaan dan saling memengaruhi, sehingga dampaknya semakin kompleks.
Hal tersebut menjadi fokus The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 yang digelar di Auditorium Cyber UNAS, Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026. Konferensi bertema “Beyond 2030: Redefining Global Resilience in the Age of Polycrisis” itu diikuti lebih dari 300 peserta secara luring dan daring dari tujuh negara.
“Saat ini, dunia tidak hanya menghadapi satu krisis, melainkan berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan dan semakin saling berkaitan,” ujar Wakil Rektor UNAS Ernawati Sinaga dalam keterangan tertulis, Kamis, 15 Oktober 2026.
Dia mencontohkan perubahan iklim dapat mengganggu ketahanan pangan. Sementara itu, kerawanan pangan berpotensi memengaruhi kesehatan dan stabilitas sosial.
“Ketahanan tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan untuk pulih setelah krisis. Lebih dari itu, ketahanan harus mencakup kemampuan untuk mengantisipasi, beradaptasi, bertransformasi, dan menjadi lebih kuat dalam menghadapi perubahan,” tegas Ernawati.
Ernawati menilai berbagai persoalan tersebut membutuhkan pemahaman menyeluruh dan kolaborasi lintas sektor.
Hukum Internasional di Tengah Gejolak Global
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyoroti pentingnya penghormatan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional untuk menjaga perdamaian serta stabilitas global.
"Seluruh negara wajib menghormati kesetaraan kedaulatan, integritas wilayah, dan prinsip non-intervensi terhadap urusan dalam negeri negara lain, terlepas dari tingkat kekuatan dan pengaruhnya," kata Boroujerdi.
.jpeg)
Kegiatan The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 yang digelar di Auditorium Cyber UNAS, Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026. Metro TV/Reyhan
Boroujerdi menekankan penerapan hukum internasional secara konsisten untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan tindakan sepihak oleh negara-negara dominan.
Menurut dia, penghormatan terhadap prinsip tersebut diperlukan untuk mendorong tatanan internasional yang lebih seimbang melalui kerja sama dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Ketua Pelaksana ICGI 2026, Robi Nurhadi, mengatakan dunia semakin terfragmentasi di tengah tenggat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030 yang kian dekat.
Dia menilai berbagai tantangan global membutuhkan respons terpadu melalui tiga fokus pembahasan konferensi, yakni tata kelola global, ekonomi, serta energi dan pangan.
Sebagai tindak lanjut konferensi tersebut, penyelenggara berencana menerbitkan Policy Brief Beyond 2030 Framework yang merangkum gagasan dan rekomendasi kebijakan dari ICGI 2026 untuk menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan.