Lanskap Bujang Raba Jambi Disebut Oase Cegah Karhutla

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (kiri). Foto: Dok. Kemenhut.

Lanskap Bujang Raba Jambi Disebut Oase Cegah Karhutla

Fachri Audhia Hafiez • 28 September 2026 23:36

Jakarta: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni mengapresiasi keberhasilan masyarakat Lanskap Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba), Jambi, dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kesadaran serta partisipasi aktif warga setempat dinilai menjadi kunci utama kelestarian hutan.

“Jadi, di tengah kelelahan kita untuk menjaga hutan dari karhutla di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan, ada semacam oase di Jambi,” ujar Raja Juli saat meninjau Bujang Raba, Jambi, Senin, 28 September 2026.
 


Raja Juli menegaskan bahwa keberhasilan Bujang Raba membuktikan pentingnya pemberdayaan masyarakat desa. Pemerintah juga berencana membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) berbasis desa dengan mengoptimalkan peran Masyarakat Peduli Api (MPA).

“Karena ada masyarakat peduli api di desa-desa—dan Bujang Raba adalah contohnya—jika masyarakat desanya diberdayakan dan diajak berpartisipasi bersama, maka hutan akan terjaga,” kata Raja Juli.

Tak hanya tangguh mencegah karhutla, Lanskap Bujang Raba tercatat sebagai kelompok perhutanan sosial pertama yang mengantongi izin perdagangan karbon sektor kehutanan. Raja Juli mendorong skema manfaat ekonomi dari karbon ini tidak hanya dinikmati oleh konsesi besar, melainkan menyasar perhutanan sosial, masyarakat hukum adat, serta warga desa hutan.


Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (tengah). Foto: Dok. Kemenhut.

Di samping partisipasi masyarakat, Menhut menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dengan aparat penegak hukum serta Ditjen Gakkum Kementerian Kehutanan untuk menggiatkan patroli bersama. Hal ini guna memberantas aktivitas ilegal.

"Jadi, kuncinya ada dua: kalau masyarakatnya berdaya, ada kesadaran, dan penegakan hukumnya berjalan lalu dikombinasikan, maka tidak akan ada lagi aktivitas ilegal,” kata Raja Juli.

Menhut menambahkan, penanganan karhutla di Jambi menunjukkan tren yang amat positif hasil sinergi pemerintah daerah dan Manggala Agni. Jumlah titik panas (hotspot) yang semula mencapai ratusan kini menyusut drastis menjadi tersisa lima titik per 27 September 2026.

(Fachri Audhia Hafiez)