Akhir September 2026, Cadangan Devisa RI Capai USD146,3 Miliar

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Foto: Metrotvnews.com/Gervin Purba

Akhir September 2026, Cadangan Devisa RI Capai USD146,3 Miliar

Gervin Nathaniel Purba • 4 November 2026 13:23

Jakarta: Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD146,3 miliar pada akhir September 2026. Jumlah tersebut dinilai masih kuat karena mampu membiayai kebutuhan impor selama 5,3 bulan atau setara 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional. Kondisi tersebut menjadi salah satu penopang ketahanan eksternal Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global.

”Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap kuat sebesar USD146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” ujar Destry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV Tahun 2026 di Jakarta, dikutip dari tayangan Breaking News Metro TV, Rabu, 4  November 2026.


 


 

Surplus perdagangan dan arus modal asing perkuat ketahanan eksternal


Selain cadangan devisa, ketahanan eksternal Indonesia juga ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus. Sepanjang Januari hingga September 2026, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai USD10,61 miliar, dengan surplus pada September 2026 tercatat sebesar USD3,36 miliar.

Dari sisi aliran modal, investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 sempat mencatatkan arus keluar bersih atau net outflows sebesar USD0,08 miliar. Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh keluarnya investasi asing dari pasar saham domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.


Namun, memasuki awal triwulan IV-2026, aliran modal asing mulai menunjukkan perbaikan. Hingga 23 Oktober 2026, investasi portofolio asing mencatatkan arus masuk bersih atau net inflows sebesar USD0,04 miliar yang terutama didukung oleh investasi pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Dengan perkembangan tersebut, aliran investasi portofolio asing secara kumulatif sejak Januari hingga 23 Oktober 2026 tercatat mengalami net inflows sebesar USD13,23 miliar. Perkembangan ini menunjukkan bahwa aliran modal asing secara keseluruhan masih mencatatkan posisi positif meskipun sempat terjadi arus keluar pada triwulan III.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan akibat perkembangan pasar keuangan global. Rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026, tetapi kembali melemah pada Oktober hingga awal November. Pada 2 November 2026, rupiah tercatat berada di level Rp18.145 per USD atau melemah 0,11 persen dibandingkan posisi akhir Oktober 2026.

Tekanan terhadap rupiah, kata Destry, dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal. Mulai dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, hingga sentimen investor global terhadap aset negara berkembang.

Meski demikian, posisi cadangan devisa yang masih berada di atas standar kecukupan internasional serta surplus neraca perdagangan dan aliran modal asing kumulatif yang positif menjadi sejumlah indikator penopang ketahanan eksternal Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global. (Tiaranissa Juliansyah)

(Gervin Nathaniel Purba)