BGN Sebut SPPG Tak Wajib Kurangi Tenaga Relawan MBG

Juru bicara Badan Gizi Nasional (BGN) Tysa Novenny. Foto: dok. Humas BGN.

BGN Sebut SPPG Tak Wajib Kurangi Tenaga Relawan MBG

Gabriella Thesa Widiari • 6 November 2026 09:41

Jakarta: Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut tidak ada kewajiban Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengurangi jumlah tenaga relawan, dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Kebutuhan tersebut sepenuhnya disesuaikan dengan kapasitas dan skema dapur masing-masing.

"Kami hanya memberikan alternatif perhitungan kebutuhan relawan SPPG per hari berdasarkan jumlah penerima manfaat," kata juru bicara BGN Tysa Novenny dilansir dari Antara, Jumat, 6 November 2026.

Baca Juga :

 

 

Ia menjelaskan alternatif perhitungan ini untuk membantu mitra SPPG menyesuaikan jumlah tenaga kerja dengan batas maksimal biaya operasional Rp3.000 per penerima manfaat per hari. Namun, jumlah relawan yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan banyaknya penerima manfaat yang dilayani.

Berdasarkan alternatif perhitungan BGN, SPPG dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 3.000 orang dapat menggunakan acuan kebutuhan 47 relawan per hari. Sementara, untuk 2.500–2.999 penerima manfaat sebanyak 42 relawan, 2.000–2.499 penerima manfaat sebanyak 33 relawan, 1.500–1.999 penerima manfaat sebanyak 24 relawan, serta 1.000–1.499 penerima manfaat sebanyak 15 relawan.

Adapun angka tersebut bersifat sebagai acuan fleksibel dan bukan batas maksimal jumlah pekerja yang diperbolehkan di lapangan. Setiap SPPG tetap diperkenankan memiliki jumlah relawan lebih banyak selama total anggaran operasional tidak membengkak dari pagu yang ditetapkan.

"Bagaimana jika jumlah relawan melebih angka alternatif kebutuhan tadi? Tidak apa-apa asal biaya operasionalnya tidak melebih pagu Rp3.000 per penerima manfaat per hari," ujar Tysa.


Dapur SPPG. Foto: dok. Humas BGN. 

Ia mengatakan untuk menjaga efisiensi, mitra SPPG juga dapat menerapkan sistem giliran atau shifting jadwal kerja harian bagi para relawan. Langkah ini menjadi alternatif fleksibel agar pelayanan tetap berjalan optimal tanpa harus merumahkan tenaga kerja.

"Sekali lagi, kami tidak pernah meminta dapur SPPG untuk mengurangi jumlah relawan. Namun, para mitra dapat mencoba alternatif pengaturan melalui sistem shifting relawan setiap harinya sesuai dengan kebutuhan dan jumlah penerima manfaat yang dilayani," ucap Tysa.

(Gabriella Thesa Widiari)